Jakarta — Semangat dakwah sosial Muhammadiyah kembali menemukan wujud nyatanya. Sejak penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Badan Gizi Nasional (BGN), Persyarikatan bergerak cepat untuk mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program prioritas pemerintah.
Sebagai bentuk keseriusan, Muhammadiyah membentuk Koordinator Nasional Makan Bergizi Muhammadiyah guna memperkuat koordinasi dan konsolidasi seluruh potensi organisasi dalam pelaksanaan program tersebut.
Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, M. Nurul Yamin, menyebut program MBG sejalan dengan nilai-nilai dasar dakwah Muhammadiyah yang berpijak pada surah Al-Ma’un, yaitu kepedulian terhadap kaum dhuafa dan pemenuhan hak-hak sosial masyarakat.
“Spirit Makan Bergizi Gratis adalah spirit Al-Ma’un—menghadirkan kemaslahatan sosial yang nyata bagi umat, terutama anak-anak bangsa yang membutuhkan,” ujar Yamin, Rabu (22/10/2025).
125 Dapur Siap Beroperasi, 150 Lagi Menyusul
Sebagai langkah konkret, Muhammadiyah akan menggelar Peluncuran Nasional Tahap Kedua SPPG/Dapur Muhammadiyah pada Jumat (24/10/2025) di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jawa Tengah.
Acara tersebut akan dihadiri langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir dan Kepala BGN Dadan Hindayana. Dalam kesempatan itu, sebanyak 125 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) akan diluncurkan dan siap beroperasi, sementara 150 calon SPPG lainnya tengah diselesaikan pembangunannya dan direncanakan rampung pada November 2025.
“Ini adalah bentuk nyata gerakan dakwah Muhammadiyah dalam mendukung negara memenuhi kebutuhan gizi rakyatnya,” kata Yamin.
Lima Model SPPG Muhammadiyah
Muhammadiyah mengembangkan lima model dapur atau SPPG untuk menjangkau berbagai lapisan masyarakat:
SPPG Sekolah — Berbasis sekolah Muhammadiyah, terutama yang memiliki jurusan tata boga. Dapur ini tidak hanya melayani siswa sekolah sendiri, tetapi juga sekolah-sekolah sekitar agar distribusi makanan bergizi lebih efisien.
SPPG Pesantren — Dijalankan di pesantren Muhammadiyah yang memiliki cukup banyak santri. Selain santri, layanan ini juga mencakup masyarakat sekitar, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
SPPG Panti Asuhan — Menjangkau anak-anak yatim dan dhuafa agar mereka juga mendapat hak gizi yang layak.
SPPG Kampus — Dikelola oleh perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) sebagai bagian dari kegiatan catur dharma kampus yang memadukan pendidikan, penelitian, pengabdian, dan dakwah sosial.
SPPG Umum — Dikelola oleh PP Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, dan organisasi otonom di berbagai tingkatan. Model ini menyasar masyarakat luas, terutama kelompok rentan yang membutuhkan perhatian khusus.
“Kelima model ini memungkinkan dakwah Muhammadiyah hadir di semua lini—dari sekolah dan pesantren hingga masyarakat umum,” jelas Yamin, yang juga menjabat Koordinator Nasional Makan Bergizi Muhammadiyah.
Menjaga Keberlanjutan, Menguatkan Sinergi
Menurut Yamin, keberhasilan program MBG tidak dapat dicapai hanya dengan intervensi jangka pendek. Ia mengingatkan bahwa visi Presiden Prabowo Subianto menempatkan MBG sebagai program jangka panjang yang membutuhkan sinergi, koordinasi, dan konsolidasi banyak pihak.
“Program ini bukan proyek sesaat, melainkan ikhtiar panjang untuk membangun generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan mandiri. Karena itu, keberlanjutannya harus dijaga bersama,” ujarnya.
Dengan semangat fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan), Muhammadiyah ingin memastikan program ini menjadi gerakan kebangsaan yang bernilai ibadah, sekaligus bentuk nyata kehadiran negara dan ormas Islam dalam memenuhi hak dasar anak bangsa: gizi yang layak dan kehidupan yang lebih baik.
































































