Palu — Suasana Aula Gedung C Pascasarjana Universitas Tadulako, Rabu (22/10/2025), tampak semarak oleh semangat kebangsaan. Ratusan mahasiswa baru dan anggota Resimen Mahasiswa (Menwa) berkumpul dalam kegiatan bertajuk “Menwa Bersama Mahasiswa Baru Menjaga NKRI dari Kampus”, yang digagas oleh Direktorat Intelkam Polda Sulawesi Tengah.
Acara ini menjadi bagian dari upaya kepolisian memperkuat ketahanan ideologi dan semangat nasionalisme di kalangan generasi muda — terutama di lingkungan perguruan tinggi yang kerap menjadi arena pertarungan gagasan di era digital.
Sebagai narasumber, Kasubdit Kamneg Direktorat Intelkam Polda Sulteng AKBP Safrudin, S.E., M.AP., menyampaikan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keutuhan bangsa dari pengaruh ideologi yang menyesatkan.
“Banyak narasi di dunia digital yang terlihat religius, tetapi justru dimanfaatkan untuk menebar kebencian dan memecah belah bangsa. Karena itu, generasi muda harus cerdas, kritis, dan selektif dalam menerima informasi,” tegas Safrudin di hadapan para peserta.
Ia menambahkan, Polri tidak hanya bertugas menegakkan hukum, tetapi juga membangun kesadaran ideologis di tengah masyarakat. Berbagai kerja sama terus dijalin dengan perguruan tinggi, tokoh agama, dan organisasi kemahasiswaan guna memperkuat moderasi beragama serta cinta tanah air.
Safrudin juga menyinggung keberhasilan Operasi Madago Raya di Poso, yang menjadi bukti nyata konsistensi Polri dan TNI dalam menanggulangi sisa jaringan terorisme di Sulawesi Tengah.
“Sampai saat ini, sebanyak 168 mantan narapidana terorisme telah kembali ke masyarakat dan masuk dalam kategori hijau, artinya mereka sudah berkomitmen untuk kembali ke jalan kebangsaan,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menyoroti pentingnya literasi digital bagi mahasiswa. Dunia maya, menurutnya, ibarat pisau bermata dua — bisa menjadi sumber ilmu, namun juga sarana penyebaran kebencian bila tak disaring dengan nalar sehat.
“Algoritma media sosial bisa membentuk pola pikir ekstrem jika pengguna tidak kritis. Karena itu, pilihlah panutan yang benar — ustaz, guru, atau tokoh yang berpaham nasionalis dan cinta NKRI,” pesannya.
Kegiatan yang berlangsung interaktif itu diwarnai dengan diskusi terbuka mengenai bahaya radikalisme, pentingnya toleransi, serta strategi menjaga harmoni di lingkungan kampus. Para mahasiswa antusias mengajukan pertanyaan dan berbagi pandangan tentang cara menjaga Indonesia dari ancaman ideologi transnasional.
Melalui kegiatan ini, Polda Sulawesi Tengah berharap kampus dapat menjadi benteng utama pertahanan ideologi bangsa, sekaligus ruang lahirnya generasi muda yang berpikir kritis, moderat, dan berjiwa Pancasila.
“Menjaga NKRI bukan hanya tugas aparat, tetapi panggilan seluruh anak bangsa — terutama mahasiswa yang kelak akan menjadi pemimpin masa depan,” pungkas AKBP Safrudin.

































































