Jakarta — Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengakui masih menghadapi tantangan serius terkait penyebaran paham radikal di internal institusi. Asisten Kapolri Bidang Sumber Daya Manusia (As SDM), Irjen Anwar, menyebut ada sejumlah personel yang sempat terpapar paham tersebut, sehingga Polri kini memperkuat langkah pembinaan ideologis dan keagamaan.
“Masalah yang kita hadapi di SSDM Polri antara lain intoleransi dan radikalisme. Apakah Polri sudah terpapar? Iya, kita harus akui,” ujar Anwar dalam diskusi bertajuk “Rekonstruksi Jati Diri Bangsa Merajut Nusantara untuk Mewujudkan Polri Sadar Berkarakter”, Senin (27/10/2025).
Menurut Anwar, upaya membangun jati diri bangsa harus dimulai dari internal Polri sendiri, agar setiap anggota memiliki karakter yang kuat, moderat, dan berlandaskan nilai-nilai kebangsaan.
Ia menuturkan, beberapa tahun lalu ditemukan kasus polisi wanita (polwan) di Maluku Utara yang terpapar paham radikal melalui media sosial hingga berencana keluar dari institusi. “Ada dua orang yang rela keluar untuk bergabung dengan kelompok ekstrem,” ungkapnya.
Selain itu, sejumlah personel laki-laki juga diketahui pernah bergabung dengan kelompok Polisi Cinta Sunnah (PCS) — sebuah kelompok yang mengatasnamakan pelaksanaan sunnah Nabi, namun dalam praktiknya dianggap melenceng dan cenderung ekstrem.
“Mereka mengatasnamakan sunnah Nabi, tapi arahnya sudah salah. Ujungnya terpapar paham Wahabi yang radikal,” jelas jenderal bintang dua itu.
Untuk mencegah penyebaran paham serupa, Polri kini memperkuat pembinaan spiritual dan ideologis bagi seluruh anggota, baik muslim maupun nonmuslim. Salah satu inisiatifnya adalah menggelar kegiatan keagamaan daring setiap Kamis yang bisa diikuti seluruh personel dari berbagai daerah.
“Kalau pihak luar bisa mencuci otak lewat media sosial, kita pun harus melawan dengan cara yang sama — mencuci otak anggota dengan ajaran yang benar,” ujar Anwar.
Langkah ini, lanjutnya, menjadi bagian dari transformasi Polri menuju institusi yang tidak hanya profesional, tetapi juga berkarakter, beriman, dan berpihak pada nilai kemanusiaan.
“Radikalisme tidak hanya mengancam negara, tapi juga merusak nilai-nilai luhur agama itu sendiri. Karena itu, pembinaan mental dan moderasi beragama menjadi kunci,” tegas Anwar.
Polri memastikan upaya pencegahan akan terus dilakukan melalui kombinasi pendekatan edukatif, keagamaan, dan kultural, agar seluruh anggota tetap berpegang pada semangat “Polri Presisi” — profesional, berintegritas, dan menjunjung tinggi nilai kebangsaan.
































































