Jakarta — Program Makan Bergizi (MBG) dinilai sebagai langkah strategis dalam menanggulangi persoalan gizi buruk yang masih dihadapi bangsa Indonesia. Lebih dari sekadar kebijakan kesehatan, program ini menjadi bentuk nyata ikhtiar bersama dalam menjaga amanah Allah untuk mencerdaskan dan menyehatkan generasi penerus bangsa.
Ahli gizi Mochammad Rizal, yang tengah menempuh studi doktoral di Cornell University, Amerika Serikat, menyampaikan bahwa Indonesia kini menghadapi tantangan gizi kompleks atau triple burden of malnutrition: stunting, anemia, dan obesitas.
“Stunting bukan hanya soal tinggi badan, tetapi juga berpengaruh terhadap kecerdasan dan kualitas hidup anak di masa depan. Ini berdampak pada produktivitas serta potensi ekonomi bangsa. Dalam pandangan Islam, menjaga kesehatan generasi adalah bagian dari menjaga amanah Allah dalam menciptakan umat yang kuat dan berilmu,” ujarnya.
Menurut Rizal, sasaran utama MBG adalah ibu hamil hingga anak usia dua tahun. Dengan pelaksanaan yang konsisten dan tepat sasaran, program ini diyakini membawa dampak berantai positif.
“Dalam jangka pendek, status gizi anak meningkat dan risiko anemia menurun. Dalam jangka panjang, anak-anak yang sehat akan tumbuh menjadi generasi yang kuat secara fisik, mental, dan spiritual — sesuai sabda Rasulullah SAW bahwa ‘Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah’,” katanya.
Lebih jauh, Rizal menilai MBG juga memiliki nilai ekonomi dan sosial yang tinggi. Dengan mengoptimalkan bahan pangan lokal, program ini turut menghidupkan sektor pertanian, perikanan, dan usaha mikro di berbagai daerah.
“Program ini bukan hanya tentang makan bergizi, tetapi juga tentang keadilan sosial dan pemberdayaan ekonomi umat. Petani, nelayan, dan pelaku katering lokal mendapatkan manfaat langsung dari rantai pasok pangan bergizi,” jelasnya.
Namun, Rizal mengingatkan bahwa pelaksanaan MBG di lapangan masih menghadapi tantangan, salah satunya adalah kebiasaan anak mengonsumsi makanan ultra olahan (UPF) yang menyebabkan menu sehat sering tidak dihabiskan.
“Diperlukan edukasi dan pendekatan yang lembut, agar anak-anak terbiasa menikmati makanan sehat dengan penuh kesadaran. Mendidik pola makan juga bagian dari membangun akhlak sehat,” tuturnya.
Tantangan lainnya berkaitan dengan keterbatasan sumber daya manusia dan pengawasan mutu pangan. Saat ini, rasio satu ahli gizi yang menangani 3.000–4.000 porsi makanan dinilai sangat berat dan berisiko terhadap keamanan pangan.
“Kabar baiknya, regulasi terbaru kini membatasi produksi maksimal 2.000 porsi per satuan penyedia. Ini langkah korektif yang menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjaga mutu dan keselamatan pangan,” kata Rizal.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) juga telah menerbitkan panduan monitoring program MBG yang mencakup pengukuran antropometri rutin dan pelacakan sisa makanan (food waste). Data tersebut menjadi dasar evaluasi agar program dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.
Sebagai investasi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045, Rizal menekankan bahwa keberhasilan MBG tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada sinergi antarinstansi dan pendidikan gizi di tingkat keluarga.
































































