Nduga — Di tengah sunyi hutan dan terbatasnya akses transportasi di pedalaman Kabupaten Nduga, wajah-wajah polos anak-anak SD Rimba Mumugu 2 kini tampak lebih cerah. Setiap hari, mereka menanti waktu makan siang dengan penuh semangat — bukan hanya karena menu yang bergizi, tetapi juga karena kehadiran negara yang benar-benar mereka rasakan.
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG), salah satu prioritas nasional Presiden Prabowo Subianto, kini menjangkau wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) seperti Nduga. Di sekolah yang sederhana ini, program tersebut dijalankan dengan dukungan personel TNI, yang membantu proses penyediaan dan distribusi makanan bagi para siswa.
Guru SD Rimba Mumugu 2, Margianti Sinta, mengatakan kehadiran MBG sempat menjadi magnet bagi anak-anak untuk kembali bersekolah.
“Untuk awalnya sebenarnya menambah minat sekolah, tetapi karena faktor perkebunan Ibu PKK, anak-anak banyak ikut orang tua pergi berkebun, sehingga yang hadir ke sekolah semakin kurang,” ujarnya sambil tersenyum.
Meski demikian, Margianti mengakui program ini membawa perubahan besar dalam semangat belajar dan kesehatan anak-anak. “Mereka jadi lebih bersemangat, tidak cepat lelah, dan lebih fokus saat belajar,” tambahnya.
Salah satu siswa, Yohakim, tampak gembira saat menyebutkan menu yang ia santap. “Ada nasi, sayur, daging, dan buah. Saya suka semua,” ucapnya polos.
Di sekolah yang berdiri di tengah keterbatasan sarana, Program MBG bukan sekadar menyediakan makanan, tetapi juga membangun harapan. Setiap suapan nasi menjadi simbol perhatian negara terhadap generasi muda Papua — anak-anak yang kelak menjadi bagian dari cita-cita Indonesia Emas 2045.
Program ini juga memperkuat peran sosial TNI yang tidak hanya menjaga kedaulatan negara, tetapi turut memastikan anak-anak di daerah terpencil bisa merasakan hak dasar mereka: asupan gizi dan kesempatan untuk tumbuh sehat serta cerdas.
Di Rimba Mumugu, kehadiran MBG menjadi bukti nyata bahwa pembangunan tidak berhenti di kota besar. Ia menembus batas geografis, menyentuh ruang-ruang kecil di pedalaman, dan menyalakan harapan besar — dari piring makan sederhana di sekolah, menuju masa depan yang lebih kuat bagi bangsa.
































































