Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan inisiatif kemanusiaan strategis yang perlu mendapat dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat. Program ini dinilai menjadi langkah penting pemerintah dalam memastikan akses gizi seimbang bagi anak-anak Indonesia sekaligus menghapus kesenjangan gizi yang masih terjadi di banyak daerah.
Penegasan itu disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo. Menurutnya, Pemerintah menempatkan pemenuhan gizi sebagai hak dasar seluruh anak Indonesia, bukan bantuan bersifat karitatif. Data nasional menunjukkan sekitar 60 persen anak Indonesia belum mendapatkan menu gizi seimbang, bahkan sebagian besar tidak mampu membeli susu sebagai sumber protein penting.
Karena itu, program MBG dirancang menyasar kelompok rentan, mulai dari anak sekolah, balita, hingga ibu hamil dan menyusui, demi memutus rantai gizi buruk antargenerasi. Intervensi sejak dini dipercaya mampu meningkatkan kesehatan, kecerdasan, serta produktivitas anak sebagai modal menuju Indonesia Emas 2045.
Firman menyebut kebijakan ini sejalan dengan praktik di sejumlah negara yang telah lebih dulu menjadikan intervensi gizi sebagai prioritas pembangunan sumber daya manusia, seperti China, Jepang, dan India.
“Kita harus sadar bahwa Makan Bergizi Gratis adalah program kemanusiaan. Ini program yang harus didukung penuh karena menjadi fondasi menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Firman dalam pernyataannya, Senin (24/11/2025).
Politikus Partai Golkar yang mewakili Daerah Pemilihan Jawa Tengah III itu saat ini bertugas di Komisi IV DPR RI, yang membidangi isu pertanian, pangan, dan lingkungan. Ia juga tercatat sebagai anggota Badan Legislasi (Baleg) serta pernah bertugas dalam Badan Pengkajian MPR.
Dalam sebuah siaran langsung di media sosial, Firman menekankan bahwa kualitas generasi Indonesia ke depan sangat ditentukan oleh kecukupan gizi sejak usia dini. Menurutnya, tanpa perbaikan gizi, bonus demografi tidak akan memberi nilai lebih bagi pembangunan nasional.
“Kalau mutu gizi anak tidak dijaga, sulit bagi kita mencapai Indonesia Emas 2045. Bonus demografi hanya bermanfaat kalau generasinya sehat dan berdaya saing,” tegasnya.
Ia menilai MBG bukan sekadar jawaban atas kebutuhan mendesak masyarakat, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Negara, lanjutnya, harus hadir memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu mendapatkan kesempatan tumbuh optimal.
Firman juga memuji langkah Presiden Prabowo yang menjadikan MBG sebagai salah satu prioritas nasional. Ia melihat kebijakan itu mencerminkan kepedulian untuk membangun masa depan generasi muda Indonesia secara lebih terarah.
“Ini bukan hanya program makan. Ini adalah upaya membangun pondasi anak bangsa. Dengan gizi yang baik, generasi kita akan lebih sehat dan mampu bersaing di tingkat global,” ujarnya.
































































