Jakarta – Keluarga besar KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) akan menggelar Haul ke-16 pada Sabtu, 20 Desember 2025, di kediaman almarhum, Jalan Warung Silah No. 10, Ciganjur, Jakarta Selatan. Haul tahun ini mengangkat tema “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat”, sebuah pesan yang menegaskan kembali komitmen Gus Dur terhadap demokrasi dan kedaulatan rakyat.
Sejumlah tokoh nasional dan ulama dijadwalkan hadir, di antaranya pakar hukum tata negara Mahfud MD, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh, KH Muadz Thohir, KH Abdul Hakim Mahfudz, serta para budayawan dan seniman seperti Cak Kirun dan Budi Cilok. Acara juga akan diisi dengan pembacaan refleksi, tilawah, serta penampilan sejumlah kelompok seni.
Ketua Pelaksana, Alissa Qotrunnada Wahid, menjelaskan bahwa tema haul dipilih untuk mengingatkan kembali hakikat demokrasi yang semakin lama dirasakan mengalami erosi. Menurutnya, rakyat bukan sekadar penerima kebijakan, melainkan pemilik martabat, aspirasi, dan potensi yang menjadi dasar berdirinya negara.
“Rakyat punya martabat, hak, dan aspirasi. Negara seharusnya kembali menjadikan rakyat sebagai tujuan akhir setiap kebijakan,” ujar Alissa di Jakarta, Senin (8/12/2025).
Ia menegaskan, cita-cita kemerdekaan Indonesia berakar pada upaya menghadirkan kehidupan yang adil dan makmur bagi seluruh rakyat. Karena itu, konsep untuk rakyat tidak boleh dipersempit menjadi sekadar program bantuan atau pendekatan transaksional, melainkan keterlibatan aktif warga dalam menentukan arah kehidupan berbangsa.
“Rakyat tidak boleh hanya diposisikan sebagai objek pembangunan atau pasar ekonomi. Mereka harus menjadi subjek yang menentukan arah kebijakan,” tegas Alissa.
Sementara itu, makna dari rakyat dan oleh rakyat menuntut negara untuk bertumpu pada kekuatan masyarakat, melibatkan publik dalam proses, serta menghadirkan perubahan yang benar-benar dirasakan.
“Inilah pesan yang ingin kami suarakan kembali di Haul Gus Dur ke-16. Semangat ini mulai memudar, baik di kalangan rakyat maupun penyelenggara negara,” tuturnya.
Alissa juga menyoroti peran partai politik yang menurutnya harus kembali berpihak pada kepentingan publik. Ia menyebut fenomena ini sebagai “alarm” mengenai perlunya koreksi arah demokrasi.
Sepanjang hidupnya, Gus Dur dikenal sebagai pembela teguh kedaulatan rakyat dan supremasi sipil. Prinsip kepemimpinannya berpegang pada kaidah tasharruful imam ‘ala ra’iyyah manuthun bil mashlahah—bahwa setiap kebijakan pemimpin wajib berpijak pada kemaslahatan masyarakat luas.
“Kekuasaan itu untuk rakyat. Itu pesan Gus Dur yang ingin kami hidupkan kembali,” kata Alissa.
Haul ke-16 Gus Dur terbuka untuk umum dan akan disiarkan langsung melalui TV9 Nusantara. Panitia juga menyiapkan juru bahasa isyarat agar acara dapat diakses lebih inklusif.
































































