Rembang — Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus menguatkan program deradikalisasi bagi mantan narapidana terorisme dan mitra deradikalisasi melalui pendekatan dialog keagamaan dan penguatan Islam wasathiyah. Salah satu langkah tersebut dilakukan dengan menggandeng ulama kharismatik KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) dalam kegiatan silaturahmi kebangsaan di Rembang, Jawa Tengah.
Kegiatan bertajuk Silaturahmi Kebangsaan Bersama Tokoh Agama dalam Rangka Meningkatkan Toleransi dan Moderasi Beragama itu digelar di Lembaga Pembinaan, Pendidikan, dan Pengembangan Ilmu Al-Qur’an (LP3IA), Senin (22/12/2025). Sekitar 50 mitra deradikalisasi mengikuti kegiatan secara langsung, sementara ratusan lainnya terhubung secara daring dari enam lembaga pemasyarakatan di berbagai daerah. Secara keseluruhan, kegiatan ini diikuti sedikitnya 223 peserta.
Kepala BNPT Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono membuka kegiatan tersebut dan menegaskan bahwa proses penanggulangan terorisme di Indonesia dilakukan secara komprehensif, terukur, dan berlandaskan hukum. Ia menyebut Indonesia memiliki kekhasan tersendiri dalam penanganan terorisme, salah satunya melalui definisi terorisme yang tertuang secara jelas dalam peraturan perundang-undangan.
“Indonesia merupakan satu-satunya negara yang secara formil mencantumkan definisi terorisme dalam undang-undang. Ini menunjukkan keseriusan negara agar penanganan terorisme tidak dilakukan secara serampangan,” ujar Eddy dalam sambutannya.
Menurut dia, kejelasan definisi tersebut menjadi pijakan penting agar upaya penindakan, pencegahan, hingga pembinaan berjalan seimbang. Penanggulangan terorisme, kata Eddy, tidak hanya bertumpu pada penegakan hukum, tetapi juga pada strategi pencegahan melalui kontra radikalisasi dan deradikalisasi.
Eddy juga memaparkan peran BNPT sebagai lembaga yang bertugas merumuskan dan mengoordinasikan kebijakan nasional penanggulangan terorisme, termasuk kerja sama lintas kementerian, lembaga penegak hukum, hingga mitra internasional.
Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap definisi terorisme agar tidak terjadi penyimpangan pemaknaan antara ajaran agama dan tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama.
Sesi utama kegiatan kemudian diisi dengan dialog dan ceramah keagamaan oleh Gus Baha. Dalam pemaparannya, Gus Baha menegaskan bahwa forum pengajian dan dialog tersebut dilandasi niat ibadah dan pencarian rida Allah SWT, bukan sebagai agenda pesanan pihak mana pun.
“BNPT hanya memfasilitasi agar saya bisa bertemu dan berdialog. Pengajian ini bukan karena permintaan pemerintah,” ujar Gus Baha di hadapan peserta.
Melalui pendekatan dialog keagamaan yang menekankan nilai Islam moderat, BNPT berharap proses deradikalisasi dapat berjalan lebih efektif. Keterlibatan tokoh agama dinilai penting untuk membangun pemahaman keagamaan yang sejuk sekaligus memperkuat kesadaran kebangsaan di kalangan mitra deradikalisasi.
Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat BNPT, antara lain Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Mayjen TNI Sudaryanto, Direktur Pencegahan Brigjen TNI Sigit Karyadi, serta Direktur Deradikalisasi Brigjen Pol Iwan Ristiyanto.
Sementara itu, dua perwakilan mitra deradikalisasi, Dipo Azhari dan dr Agus Purwantoro, menyampaikan pandangan mereka dalam sesi dialog sebagai bagian dari proses keterbukaan dan refleksi bersama.

































































