Purwakarta – Suasana hangat dan penuh tawa mewarnai pertemuan ibu-ibu petani kecil di Desa Cileunca, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, saat berdialog dengan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, Selasa (11/2/2026).
Di tengah rasa syukur karena anak-anak mereka kini menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah, para ibu menyelipkan harapan sederhana: menu yang lebih beragam.
“Alhamdulillah, senang ada MBG… Tapi kalau boleh jangan singkong lagi, ya, Bu… Kalau singkong, mah, kami sudah biasa makan itu,” ujar Siti, seorang ibu rumah tangga setempat, disambut tawa ibu-ibu lainnya.
Candaan itu langsung ditanggapi Nanik dengan memanggil Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Purwakarta. Ia meminta agar dapur-dapur MBG lebih kreatif dalam menyusun menu, tetap bergizi, serta diolah dengan cara yang aman dan menarik.
Namun obrolan tak berhenti di situ. Nanik sempat melontarkan ide modifikasi sederhana. “Kalau singkongnya dikasih keju, mau, kan?” tanyanya. Spontan para ibu menjawab kompak, “Mau, Bu… mau,” kembali diiringi gelak tawa.
Di balik candaan tersebut, para ibu mengaku merasakan dampak nyata program MBG. Mereka tak lagi perlu menyiapkan uang jajan setiap hari untuk anak-anak yang bersekolah. Bagi keluarga buruh tani dengan penghasilan sekitar Rp65 ribu untuk setengah hari kerja, penghematan itu cukup berarti.
“Saya nggak perlu menyiapkan uang jajan lagi,” kata salah seorang ibu petani.
Kehadiran MBG membuat mereka bisa menyisihkan sebagian pendapatan untuk kebutuhan rumah tangga lainnya. Program tersebut dinilai membantu meringankan beban ekonomi keluarga kecil di pelosok desa.
Kunjungan Nanik ke Desa Cileunca juga dirangkai dengan kegiatan tanam dan panen bayam bersama ibu-ibu petani lokal serta warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Purwakarta. Program ini menjadi bagian dari pemberdayaan warga binaan agar memiliki keterampilan bertani sekaligus mendukung pasokan bahan pangan untuk MBG.
Sinergi antara petani lokal, warga binaan, dan program pemenuhan gizi itu diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan desa, tetapi juga membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
Di Purwakarta, suara ibu-ibu desa itu menjadi pengingat: program besar seperti MBG akan semakin kuat jika terus mendengar aspirasi dari dapur dan sawah tempat masyarakat menggantungkan hidupnya.
































































