Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kian menunjukkan dampak terukur terhadap kualitas belajar siswa, terutama dari kelompok sosial ekonomi rendah. Hal ini terungkap dalam riset kolaboratif antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Laboratorium Sosiologi Universitas Indonesia (Labsosio UI) sepanjang 2025.
Dalam keterangan resmi Badan Gizi Nasional (BGN) yang diterima Jumat, disebutkan bahwa MBG membantu pemenuhan kebutuhan pangan bergizi bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Skor persepsi manfaat program pada kelompok ini mencapai 4,30, menunjukkan tingkat kepuasan dan penerimaan yang tinggi.
Evaluasi Labsosio UI mencatat 66,4 persen murid mengaku lebih bersemangat mengikuti pelajaran setelah rutin menerima MBG. Temuan ini memperkuat korelasi antara asupan gizi yang memadai dengan peningkatan energi, konsentrasi, dan motivasi belajar di kelas.
Tak hanya berdampak akademik, pengalaman makan bersama di sekolah juga menjadi nilai tambah sosial. Sebanyak 85,8 persen murid menyatakan MBG memberikan pengalaman yang menyenangkan, baik dari kualitas makanan maupun interaksi sosial yang terbangun.
Momentum makan bersama dinilai mendorong kebiasaan makan lebih teratur sekaligus mempererat kebersamaan antarsiswa.
Kajian evaluasi lain yang dilakukan Kemendikdasmen sepanjang 2025 melibatkan 334.128 murid di 11.143 satuan pendidikan di 29 provinsi. Hasilnya, 69 persen siswa merasakan perbaikan pola makan dan kualitas gizi.
Selain itu: 27,9 persen murid menjadi lebih fokus saat belajar, 28,2 persen lebih bersemangat mengikuti kegiatan pembelajaran, 25,7 persen lebih rajin masuk sekolah, 12,5 persen dilaporkan lebih jarang sakit.
Data tersebut menunjukkan dampak MBG tidak hanya pada pemenuhan gizi, tetapi juga pada disiplin dan kesehatan siswa.
Data terbaru Kemendikdasmen per 18 Februari 2026 mencatat 43,17 juta peserta didik telah menerima manfaat MBG dari total 53,4 juta siswa yang terdaftar dalam Dapodik. Angka ini menandakan perluasan program yang signifikan secara nasional.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, sebelumnya menegaskan bahwa anggaran pendidikan 2026 tidak dipangkas untuk MBG. Bahkan, pemerintah mengajukan tambahan anggaran biaya guna memperkuat implementasi program tersebut.
Menurutnya, MBG turut mendukung penguatan karakter dan semangat belajar siswa, sekaligus selaras dengan agenda pembangunan sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi yang sehat dan berkualitas.
Dengan capaian dan tingkat penerimaan yang tinggi, keberlanjutan serta pengawasan mutu MBG menjadi kunci agar dampak positifnya dapat dirasakan secara konsisten di seluruh daerah.

































































