Sukabumi – Menjelang waktu berbuka puasa pada Rabu (25/2/2026), suasana di sekitar RSUD R. Syamsudin, SH tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara deretan pedagang takjil, terdapat lapak sederhana yang dikelola dua suster Katolik. Lapak itu menarik perhatian Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki.
Ayep menghampiri keduanya dan membeli sejumlah menu berbuka yang mereka siapkan. Takjil yang diborong tersebut kemudian dibagikan kembali kepada warga sekitar yang tengah menunggu azan magrib. Momen itu turut diabadikan dan dibagikan melalui media sosial pribadinya.
Dalam keterangannya, Ayep menilai pemandangan tersebut sebagai gambaran nyata kehidupan masyarakat Sukabumi yang terbiasa hidup berdampingan dalam keberagaman.
“Pemandangan luar biasa menyejukkan ini saya temui di kawasan RSUD R. Syamsudin, SH. Teman-teman non-Muslim kita turut berjualan, saling meramaikan dan menghormati ibadah puasa umat Islam,” tulisnya.
Ia menegaskan bahwa toleransi di Sukabumi bukan sekadar wacana. Menurutnya, partisipasi para suster dalam menyediakan takjil bagi warga Muslim menunjukkan nilai saling menghargai yang telah lama tumbuh di tengah masyarakat.
“Inilah wujud asli Sukabumi. Toleransi bukan cuma teori, tapi aksi. Berbagi rezeki, berbagi takjil, merawat kerukunan. Sukabumi Juara,” lanjut Ayep.
Ayep juga menyampaikan apresiasi secara langsung kepada umat Katolik yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Ia mengucapkan terima kasih atas partisipasi mereka dalam meramaikan suasana Ramadan.
Unggahan tersebut menuai respons positif dari warganet. Sejumlah komentar menyebut momen itu sebagai cerminan harmonisnya hubungan antarumat beragama di Sukabumi. Ada pula warga yang menuliskan bahwa kehidupan berdampingan antara gereja dan masjid telah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dari identitas sosial kota itu.
Inisiatif yang Sudah Berlangsung Tiga Tahun
Salah satu biarawati yang berjualan, Suster Maria Anastasia, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bukanlah yang pertama kali dilakukan. Ia menyebut aktivitas berjualan takjil saat Ramadan telah berjalan sekitar tiga tahun.
Menurutnya, ide tersebut muncul dari kerja sama dengan karyawan mereka yang beragama Islam. Keinginan untuk ikut ambil bagian dalam suasana Ramadan mendorong mereka membuka lapak kecil setiap sore.
“Ide ini muncul karena kami bekerja sama dengan karyawan yang Muslim. Kami ingin berpartisipasi dalam momen Ramadan ini,” ujarnya.
Menu yang dijual pun ditentukan melalui diskusi bersama rekan-rekan Muslim. Mereka menanyakan jenis hidangan yang lazim disantap saat berbuka puasa agar takjil yang disediakan sesuai dengan selera masyarakat.
“Dari situ muncul ide es buah, kolak, bubur sumsum, dan makanan ringan lainnya. Karyawan kami juga ikut mendukung,” jelasnya.
Meski antusiasme pembeli cukup tinggi, mereka membatasi produksi sekitar 15 porsi setiap hari. Harga yang ditawarkan pun terjangkau, yakni Rp5.000 per porsi.
Suster Maria mengaku selama ini respons masyarakat sangat baik. Ia tidak merasakan adanya perlakuan berbeda karena latar belakang mereka sebagai biarawati.
“Masyarakat antusias membeli tanpa melihat latar belakang kami sebagai suster. Mereka tetap ramah saat menyapa, dan kami senang karena ada komunikasi yang terjalin,” ungkapnya.
Melalui kegiatan sederhana itu, ia berharap semangat persaudaraan tetap terpelihara di tengah perbedaan keyakinan.
“Kita sama-sama menjalani puasa dengan cara masing-masing. Meskipun proses puasa kita berbeda, kita saling mendukung semangat untuk berpuasa. Itu salah satu bentuk toleransi beragama,” tuturnya.
Di tengah dinamika sosial yang sering kali diwarnai perbedaan pandangan, lapak kecil di sudut kawasan rumah sakit tersebut menjadi simbol bahwa kebersamaan dapat tumbuh dari tindakan sederhana yang dilakukan dengan niat tulus dan rasa saling menghormati.
































































