Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai berpotensi memperkuat daya saing industri ayam dalam negeri, terutama di tengah rencana impor produk ayam dari Amerika Serikat dalam kerangka perjanjian dagang resiprokal antara kedua negara.
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad menilai kebutuhan besar bahan pangan dalam program MBG dapat menjadi peluang bagi peternak lokal untuk memperluas pasar sekaligus memperkuat rantai pasok domestik.
Menurutnya, permintaan dalam negeri yang tinggi dari program tersebut dapat menciptakan pasar khusus yang dapat diisi oleh produk ayam dari peternak lokal.
“Karena adanya pasokan dalam negeri yang besar untuk kebutuhan MBG, pasar khusus itu seharusnya dipenuhi dari produksi domestik sehingga bisa masuk dalam skema hilirisasi ayam,” ujar Tauhid dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Ia menilai berbagai program pemerintah dapat dimanfaatkan pelaku usaha peternakan ayam untuk meningkatkan daya saing produk mereka. Namun, upaya tersebut juga perlu didukung oleh kebijakan yang mampu menekan biaya produksi.
Tauhid mencontohkan dukungan pemerintah dapat diberikan melalui penyediaan pakan ternak yang lebih terjangkau, kemudahan akses obat dan layanan kesehatan ternak, serta penguatan infrastruktur peternakan.
Dengan dukungan tersebut, harga produk ayam domestik diharapkan mampu bersaing bahkan lebih murah dibandingkan produk impor.
“Yang penting produk ayam lokal harus kompetitif di dalam negeri, sehingga mampu bersaing dengan produk dari luar,” jelasnya.
Sementara itu, dalam skema perdagangan resiprokal Indonesia–AS melalui The Agreement on Reciprocal Trade (ART), Indonesia melakukan impor produk ayam dari AS dalam bentuk live poultry untuk kebutuhan pembibitan.
Impor tersebut berupa Grand Parent Stock (GPS) sebanyak sekitar 580.000 ekor dengan estimasi nilai mencapai 17–20 juta dolar AS. GPS merupakan sumber genetik utama dalam industri pembibitan ayam dan hingga kini Indonesia belum memiliki fasilitas produksi GPS sendiri.
Selain itu, impor bagian ayam seperti leg quarters, breasts, legs, maupun thighs sebenarnya sudah diperbolehkan selama memenuhi persyaratan kesehatan hewan, keamanan pangan, serta ketentuan teknis yang berlaku.
Untuk mendukung kebutuhan industri pengolahan makanan, Indonesia juga mengimpor mechanically deboned meat (MDM) yang menjadi bahan baku berbagai produk olahan seperti sosis, nugget, dan bakso. Volume impor MDM diperkirakan mencapai 120.000 hingga 150.000 ton per tahun.
Meski demikian, pemerintah menegaskan tetap memprioritaskan perlindungan terhadap peternak ayam dalam negeri. Kebijakan perdagangan yang diambil juga diarahkan untuk menjaga keseimbangan pasokan serta stabilitas harga ayam di pasar nasional.

































































