Samarinda – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama bagi keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Selain membantu pemenuhan gizi anak-anak di sekolah, program tersebut juga dinilai membawa dampak positif bagi sektor ekonomi dan sosial di daerah.
Anggota MPR RI dari daerah pemilihan Kalimantan Timur, Aji Mirni Mawarni, mengatakan berbagai tanggapan yang muncul di media sosial tidak selalu mencerminkan kondisi di lapangan.
Menurutnya, dari sejumlah kunjungan yang dilakukan, banyak masyarakat yang justru merasakan langsung manfaat dari program tersebut.
Ia mencontohkan pertemuannya dengan seorang ibu yang memiliki empat anak dan bekerja sebagai tukang cuci. Perempuan tersebut mengaku terbantu karena anak-anaknya kini bisa mendapatkan makan siang di sekolah melalui program MBG.
“Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, hal seperti itu sangat berarti,” ujarnya, Jumat (14/3/2026).
Selain membantu meringankan beban keluarga, program ini juga dinilai berkontribusi terhadap perubahan pola makan anak-anak. Beberapa orang tua, kata dia, menyampaikan bahwa anak-anak mereka mulai terbiasa mengonsumsi sayur melalui menu makanan yang disediakan di sekolah.
Ia juga sempat meninjau langsung sejumlah sekolah yang menjadi penerima program tersebut. Dari hasil pengamatannya, sebagian besar siswa menyambut baik menu yang disediakan.
Namun pada tahap awal, menurutnya, anak-anak perlu waktu untuk beradaptasi karena menu yang disajikan tidak menggunakan penyedap rasa tambahan seperti MSG.
“Awalnya anak-anak perlu beradaptasi karena menunya lebih sehat. Namun setelah beberapa waktu mereka mulai terbiasa,” katanya.
Di sisi lain, pelaksanaan program MBG juga dinilai menciptakan peluang kerja bagi masyarakat sekitar. Operasional dapur penyedia makanan melibatkan puluhan tenaga kerja yang bertugas mulai dari proses memasak hingga distribusi makanan ke sekolah-sekolah.
Tidak hanya itu, kebutuhan bahan pangan untuk penyediaan menu MBG juga berdampak pada sektor pertanian.
Ia mencontohkan pengalaman saat para petani kentang mengalami kesulitan pemasaran akibat melimpahnya hasil panen dan harga yang tidak stabil di pasaran. Kondisi tersebut kemudian mendapat perhatian pemerintah dengan memasukkan komoditas kentang ke dalam menu program MBG di sejumlah daerah.
Kebijakan tersebut membantu menyerap hasil panen petani sehingga harga komoditas tersebut kembali stabil di pasar.
Meski demikian, ia menekankan bahwa keberhasilan program MBG juga memerlukan pengawasan yang ketat. Menurutnya, sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat penting untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai standar.
Pengawasan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari kualitas makanan hingga proses distribusi kepada siswa di sekolah.
Ia juga menilai transparansi mengenai menu makanan perlu terus ditingkatkan agar orang tua dapat mengetahui jenis makanan yang dikonsumsi anak-anak setiap harinya.
“Pengawasan yang baik serta keterlibatan masyarakat sangat penting agar program ini dapat berjalan optimal dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

































































