Jakarta — Dinamika geopolitik global yang memanas, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah, dinilai berpotensi memicu polarisasi sosial jika tidak disikapi secara bijak di tingkat domestik.
Pengamat sosial yang juga Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Serian Wijatno, mengingatkan masyarakat agar tidak membiarkan dinamika konflik global merembet menjadi perpecahan di dalam negeri.
Menurutnya, berbagai ketegangan internasional yang saat ini terjadi bukan sekadar isu luar negeri, melainkan realitas yang berpotensi memengaruhi dinamika sosial hingga ke tingkat akar rumput di Indonesia.
“Kita harus waspada agar simpati terhadap dinamika dunia tidak berubah menjadi antipati terhadap sesama warga bangsa hanya karena perbedaan pandangan,” ujar Serian dalam keterangannya di Jakarta, Ahad (15/3/2026).
Serian menilai momentum Ramadan dan menjelang Idulfitri 1447 Hijriah seharusnya menjadi pengingat bagi masyarakat untuk kembali pada nilai-nilai kemanusiaan dan persaudaraan.
Di tengah berbagai kepentingan duniawi yang kerap memicu perpecahan, bulan suci Ramadan dapat menjadi ruang refleksi untuk memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Ia juga menekankan bahwa Indonesia memiliki modal sosial yang kuat berupa semangat persaudaraan kebangsaan atau ukhuwah wathaniyah.
Sebagai Bendahara Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Serian mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas nasional di tengah dinamika global yang tidak menentu.
Menurutnya, stabilitas bangsa tidak boleh dikorbankan oleh sentimen yang muncul akibat konflik di luar negeri.
Ia juga menyoroti maraknya penyebaran disinformasi dan narasi kebencian yang dapat memperparah polarisasi di masyarakat.
“Jika kita tidak memperkuat ikatan sebagai satu bangsa, energi kita akan habis untuk konflik internal sementara tantangan global terus berkembang,” katanya.
Serian yang juga anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menilai masyarakat perlu memperkuat solidaritas kebangsaan agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang memecah belah.
Menurutnya, Ramadan dan Idulfitri tahun ini dapat menjadi momentum strategis untuk memperkuat ukhuwah serta menjaga harmoni sosial di tengah berbagai dinamika global.

































































