Pekanbaru — Kedekatan waktu antara Hari Raya Nyepi dan Idulfitri tahun ini menjadi pengingat kuat bahwa keberagaman di Indonesia bukan sekadar realitas, melainkan juga kekuatan yang perlu terus dirawat.
Di tengah perbedaan cara dan waktu perayaan, masyarakat diajak untuk melihat momen ini sebagai ruang memperkuat toleransi, bukan memperlebar jarak.
Pembimbing Masyarakat Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau, Mustakim, menilai bahwa perbedaan yang ada justru menjadi fondasi penting dalam kehidupan berbangsa.
Menurutnya, Indonesia sejak awal dibangun di atas keragaman, sehingga perbedaan bukanlah hal yang harus dipertentangkan.
“Perbedaan itu bukan sesuatu yang harus dihindari. Justru di situlah letak kekuatan kita sebagai bangsa,” ujarnya, Rabu (18/3/2026).
Ia menjelaskan, berdekatan atau bahkan bersamaan waktunya antara Hari Raya Nyepi dan Idulfitri bukanlah fenomena baru. Hal tersebut terjadi karena kedua umat menggunakan sistem penanggalan yang berbeda.
Kalender Saka yang digunakan umat Hindu mengacu pada peredaran matahari dan bulan, sedangkan kalender Hijriah yang digunakan umat Islam sepenuhnya berbasis peredaran bulan. Perbedaan inilah yang membuat kedua hari raya tersebut terkadang bertemu dalam satu periode yang sama.
Lebih jauh, Mustakim mengajak masyarakat untuk menjadikan momen ini sebagai refleksi bersama tentang pentingnya saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menekankan bahwa harmoni sosial tidak hadir secara otomatis, melainkan dibangun dari sikap saling memahami dan menghargai keyakinan masing-masing.
“Kita hidup berdampingan. Maka yang dibutuhkan adalah kesadaran untuk saling menjaga dan menghormati,” katanya.
Momentum ini pun dinilai sebagai kesempatan langka untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu merawat perbedaan menjadi kekuatan, bukan sumber konflik.
































































