Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi pendorong kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka sekaligus menggerakkan ekonomi lokal melalui penyerapan tenaga kerja dan rantai pasok daerah.
Survei nasional terbaru Poltracking Indonesia menunjukkan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah mencapai 75,1 persen, dengan tingkat kepuasan sebesar 74,1 persen. Program MBG disebut sebagai faktor paling dominan yang memengaruhi penilaian positif tersebut.
Peneliti Utama Poltracking Indonesia Masduri Amrawi menjelaskan tingkat pengenalan masyarakat terhadap program ini sangat tinggi. Namun, tingkat kepuasan masih berada pada angka yang lebih moderat.
“Kita mendalami program prioritas MBG. Dari data ini, 88 persen publik tahu tentang program yang sangat populer dan fenomenal ini, hanya saja yang puas terhadap program ini adalah 55 persen,” ujar Masduri.
Selain itu, sebanyak 36,5 persen responden menyebut MBG sebagai program pemerintah yang paling dirasakan manfaat langsungnya. Persentase tersebut melampaui berbagai program bantuan lain seperti subsidi upah maupun layanan kesehatan.
Dampak program tidak hanya terlihat dari sisi persepsi publik, tetapi juga pada aktivitas ekonomi di lapangan. Chairman Indodax Oscar Darmawan menilai MBG menciptakan lapangan kerja baru melalui operasional dapur-dapur penyedia makanan di berbagai wilayah.
“MBG itu menyerap tenaga kerja yang besar. Dapur-dapur MBG di setiap titiknya menyerap tenaga kerja yang besar. Indonesia punya tantangan, dengan rakyat banyak tapi banyak pula yang nganggur,” ujarnya.
Menurutnya, anggaran program tersebut turut mengalir ke masyarakat karena melibatkan banyak pelaku usaha lokal, mulai dari pemasok bahan pangan hingga pekerja dapur.
“Jadi uang dari APBN itu akan mengalir,” tegasnya.
Efek serupa dirasakan petani di daerah. Ketua Kelompok Tani Bina Kasih Desa Kadiwano, Kecamatan Wewewa Timur, Sumba Barat Daya, Samuel Seronadi, mengatakan hasil panen kelompoknya kini terserap sebagai pasokan dapur MBG.
“Kebetulan di kelompok tani kami sayuran kami ada beragam seperti kacang panjang, buncis, labu jepang, dan sawi, untuk pasokan MBG. Dengan adanya MBG yang ada di wilayah kami, tanaman kami jadi laku, tidak perlu susah-susah lagi ke pasar,” katanya.
Ia menjelaskan sebelum program berjalan, sebagian hasil panen kerap tidak terserap pasar sehingga terbuang atau dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Kini, kelompok tani bahkan kembali membuka lahan untuk memenuhi permintaan bahan pangan.
Selain dampak ekonomi, program tersebut juga memberi efek sosial, terutama bagi anak-anak sekolah yang kini mendapatkan akses makan teratur. Kondisi ini dinilai membantu wilayah yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses pangan sebelum jam belajar.
Dengan pendekatan yang menghubungkan belanja negara, pemenuhan gizi anak, serta pemberdayaan ekonomi lokal, MBG mulai terlihat sebagai intervensi yang tidak hanya menyasar kesehatan, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat dari tingkat bawah.

































































