Makassar – Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya menyasar peningkatan gizi masyarakat, tetapi juga mulai terlihat sebagai penggerak ekonomi baru di daerah. Aliran anggaran dalam jumlah besar dinilai menciptakan efek berantai terhadap aktivitas ekonomi lokal.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mengungkapkan sebagian besar anggaran program tersebut disalurkan langsung ke daerah melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi.
“Dari total anggaran sekitar Rp 268 triliun, hampir Rp 248 hingga Rp 249 triliun kami alirkan ke daerah,” ujarnya dalam forum perguruan tinggi di Makassar, Selasa (28/4/2026).
Dana tersebut, kata dia, dikelola melalui masing-masing satuan pelayanan dan dibelanjakan di wilayah setempat. Skema ini membuat setiap unit menjadi pusat perputaran ekonomi baru.
Setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi rata-rata mengelola anggaran sekitar Rp 1 miliar per bulan. Sekitar 70 persen digunakan untuk membeli bahan baku, dengan mayoritas pasokan berasal dari sektor pertanian, peternakan, dan perikanan lokal.
“Ini menunjukkan bahwa program ini mendorong kemandirian pangan karena kebutuhan dipenuhi dari dalam daerah,” kata Dadan.
Ia mencontohkan implementasi di Jawa Barat yang telah memiliki ribuan unit layanan dengan perputaran dana mencapai triliunan rupiah setiap bulan. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan permintaan komoditas lokal sekaligus menjaga stabilitas harga.
Menurutnya, dampak ekonomi mulai terlihat dari meningkatnya aktivitas produksi hingga bertambahnya peluang kerja di tingkat masyarakat.
BGN juga mencatat adanya perbaikan indikator sosial di sejumlah wilayah, seperti penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran, serta berkurangnya ketimpangan ekonomi.
Di sisi lain, Deputi Bidang Pengadaan dan Penyaluran BGN, Suardi Samiran, menyebut rantai pasok program ini membuka peluang luas bagi masyarakat lokal.
“Bahan pangan seperti sayur dan telur berasal dari masyarakat sekitar, sehingga ekonomi daerah ikut bergerak,” ujarnya.
Dampak program tersebut turut diakui pemerintah daerah. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menilai program ini tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga menjadi investasi bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Ini bukan sekadar program makan, tetapi investasi untuk masa depan,” katanya.
Program Makan Bergizi Gratis pun dinilai menjadi salah satu instrumen strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
































































