JAKARTA — Badan Gizi Nasional (BGN) meminta seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) segera meningkatkan jumlah penerima manfaat dari kelompok prioritas 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, dalam dua minggu ke depan.
Langkah ini menjadi bagian dari percepatan implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menekan angka stunting sekaligus memperluas intervensi gizi pada kelompok yang dinilai paling rentan.
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, mengatakan saat ini cakupan penerima manfaat MBG secara nasional masih belum optimal dibandingkan target yang ditetapkan pemerintah.
“Sekarang sampai dua minggu ke depan, seluruh SPPG harus punya penerima manfaat 3B. Saat ini capaian kita baru sekitar 9 juta, sementara data dari Kementerian Kesehatan mencapai 22 juta sampai 26 juta,” kata Nanik, Selasa (12/5/2026).
Menurut dia, kesenjangan angka tersebut mendorong BGN melakukan refocusing atau penyesuaian strategi pelaksanaan program agar intervensi lebih tepat sasaran.
Fokus utama kini diarahkan pada kelompok prioritas yang membutuhkan penanganan cepat, terutama dalam upaya pencegahan stunting sejak dini.
Karena itu, seluruh SPPG diminta aktif melakukan pendataan ulang, memperluas jangkauan layanan, serta memastikan kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di wilayah masing-masing benar-benar terlayani.
BGN menilai langkah tersebut penting agar pemerataan layanan gizi tidak hanya terpusat pada peserta didik, tetapi juga menjangkau fase awal kehidupan yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia ke depan.
Tak hanya memberi instruksi, BGN juga menyiapkan sanksi tegas bagi SPPG yang tidak menjalankan arahan tersebut.
Nanik menegaskan, unit pelayanan yang masih minim penerima manfaat dari kelompok 3B akan dikenai penghentian operasional sementara.
“Kalau penerima manfaat 3B di SPPG masih sedikit, maka SPPG akan di-suspend,” tegasnya.
Kebijakan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin memastikan program MBG tidak sekadar berjalan secara administratif, tetapi benar-benar berdampak pada penurunan prevalensi Stunting dan perbaikan kualitas gizi nasional.

































































