Jakarta – Detasemen Khusus 88 Antiteror menggandeng Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia untuk memperkuat ketahanan ideologi calon pekerja migran Indonesia (PMI) sebelum berangkat ke luar negeri.
Upaya itu dilakukan melalui kegiatan sosialisasi kebangsaan dan “vaksin” pencegahan Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) yang digelar di Aula Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia DKI Jakarta, Ciracas, pada 20–22 Mei 2026.
Sebanyak 311 calon PMI mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai tujuan penempatan, mulai dari Taiwan, Hong Kong, Singapura, Arab Saudi, hingga Jerman.
Dalam kegiatan itu, tim Direktorat Pencegahan Densus 88 memberikan pembekalan terkait ancaman penyebaran ideologi radikal yang dinilai dapat menyasar siapa saja, termasuk pekerja migran.
Materi yang diberikan mencakup pengenalan paham IRET, pola perekrutan kelompok radikal, hingga strategi menghadapi propaganda ekstremisme yang kerap memanfaatkan ruang digital dan relasi sosial.
“Pekerja migran harus memiliki ketahanan ideologi dan wawasan kebangsaan yang kuat agar tidak mudah terpengaruh propaganda radikal, baik di luar negeri maupun di ruang digital,” ujar salah satu narasumber dari Densus 88.
Peserta juga diajak memahami berbagai studi kasus tentang bagaimana kelompok radikal memanfaatkan pendekatan emosional, media sosial, hingga jaringan pertemanan untuk merekrut anggota baru.
Selain penguatan kewaspadaan, calon PMI dibekali pemahaman mengenai pentingnya menjaga toleransi, persatuan, serta mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai benteng utama menghadapi pengaruh ekstremisme.
Densus 88 berharap para calon PMI tidak hanya siap bekerja secara profesional, tetapi juga mampu menjadi agen perdamaian di lingkungan tempat mereka bekerja nanti.
“Kami berharap para calon PMI bisa menjadi duta pencegahan yang menyebarkan nilai toleransi dan perdamaian,” kata tim pemateri.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta, terutama saat sesi diskusi mengenai tantangan sosial dan budaya yang kemungkinan akan mereka hadapi di negara tujuan.
Melalui kolaborasi ini, pemerintah berharap pekerja migran Indonesia memiliki kesiapan tidak hanya secara keterampilan kerja, tetapi juga secara mental dan ideologis untuk menghadapi tantangan global.
































































