JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan penajaman sasaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memprioritaskan kelompok masyarakat yang memiliki tingkat kerentanan gizi paling tinggi. Langkah tersebut dilakukan melalui pemutakhiran dan validasi data penerima manfaat secara berkelanjutan agar program semakin tepat sasaran.
Wakil Kepala sekaligus Juru Bicara BGN, Agustina Arumsari, mengatakan data yang akurat menjadi fondasi utama dalam penyusunan kebijakan pemenuhan gizi nasional. Menurutnya, pemerintah ingin memastikan setiap intervensi gizi benar-benar diterima oleh masyarakat yang paling membutuhkan.
“Data yang akurat sangat penting karena menjadi dasar bagi kami dalam menyusun kebijakan penerima manfaat. Tujuannya adalah memastikan intervensi gizi diberikan kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan sehingga manfaat program dapat dirasakan secara optimal,” ujar Arumsari dalam konferensi pers di Jakarta.
Dalam proses refocusing tersebut, BGN menetapkan empat kelompok prioritas penerima manfaat Program MBG, yakni anak-anak di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), ibu hamil, ibu menyusui, serta balita.
Menurut Arumsari, penyempurnaan data penerima manfaat terus dilakukan dengan mengintegrasikan berbagai indikator yang menggambarkan kondisi riil masyarakat. Pendekatan berbasis data ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas penyaluran program sekaligus memastikan anggaran digunakan secara optimal.
Ia menjelaskan, sejumlah faktor menjadi pertimbangan dalam menentukan prioritas penerima manfaat, mulai dari kondisi ketahanan gizi, tingkat kesejahteraan sosial ekonomi, hingga akses masyarakat terhadap pangan bergizi.
“Kami ingin memastikan bahwa kebijakan yang diambil benar-benar berbasis data. Karena itu, kualitas data terus kami perbaiki agar dapat memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan pemenuhan gizi,” katanya.
Sebagai bagian dari proses tersebut, BGN juga melakukan identifikasi dan pemetaan wilayah serta satuan pendidikan yang menjadi sasaran program. Hasil pemetaan akan terus diperbarui seiring masuknya data baru dan hasil verifikasi lapangan sehingga pelaksanaan MBG dapat menyesuaikan dinamika kebutuhan masyarakat.
Arumsari menegaskan bahwa refocusing bukan sekadar perubahan sasaran penerima manfaat, melainkan bagian dari upaya memperkuat efektivitas Program MBG melalui kebijakan yang berbasis bukti (evidence-based policy).
“Refocusing yang kami lakukan bukan semata-mata penyesuaian program, tetapi bagian dari upaya memastikan setiap kebijakan benar-benar berbasis kebutuhan masyarakat. Karena itu, data menjadi fondasi utama dalam seluruh proses pengambilan keputusan,” ujarnya.
Melalui penyempurnaan sasaran tersebut, BGN berharap Program Makan Bergizi Gratis mampu memberikan dampak yang lebih besar terhadap penurunan masalah gizi, peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak, serta penguatan kualitas sumber daya manusia, terutama di wilayah-wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap pangan bergizi.

































































