Banda Aceh – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha pangan lokal di Aceh. Sejumlah perajin tahu di Kota Banda Aceh kini menjadi pemasok kebutuhan protein nabati untuk dapur MBG yang melayani sekolah-sekolah di berbagai daerah.
Salah satunya dirasakan Mulizar, perajin tahu di Banda Aceh. Ia mengatakan produksi tahunya kini rutin diserap untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG di Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, hingga Lamno, Kabupaten Aceh Jaya.
“Kami juga memasok tahu untuk program MBG. Ada yang langsung ke dapur MBG, ada juga melalui pabrik tahu lain yang produksinya belum mencukupi,” kata Mulizar, Senin (30/6).
Menurutnya, pengiriman dilakukan rata-rata satu kali dalam sepekan. Dalam sekali distribusi, pihaknya mengirim sekitar enam ember tahu, dengan masing-masing ember berisi 288 potong. Pengelola dapur MBG biasanya datang langsung mengambil pesanan ke lokasi produksi.
Ia mengaku keberadaan program MBG membantu menjaga keberlangsungan usahanya di tengah persaingan industri tahu yang cukup ketat.
“Dengan adanya program MBG, usaha tahu kami bisa terbantu,” ujarnya.
Meski demikian, para perajin masih menghadapi tantangan berupa kenaikan harga kedelai impor sebagai bahan baku utama. Mulizar menyebut harga kedelai naik dari sekitar Rp9.500 menjadi Rp11.600 per kilogram, salah satunya dipengaruhi oleh nilai tukar dolar Amerika Serikat.
Alih-alih menaikkan harga jual, ia memilih memperkecil ukuran tahu agar tetap mampu bersaing di pasaran.
“Kalau kami menaikkan harga, belum tentu perajin lain ikut menaikkan. Akhirnya produk kami bisa kalah bersaing. Karena itu ukuran tahu sedikit dikurangi, sementara harga tetap,” jelasnya.
Saat ini satu papan tahu dijual sekitar Rp50 ribu dengan isi sekitar 20 hingga 30 potong, tergantung ukuran.
Di sisi lain, Mulizar berharap rencana pemerintah memberikan subsidi kedelai segera direalisasikan. Menurutnya, kebijakan tersebut akan membantu menekan biaya produksi sekaligus menjaga keberlangsungan usaha para perajin tahu dan tempe.
“Kami berharap subsidi kedelai segera terealisasi agar bahan baku lebih terjangkau dan usaha perajin bisa terus berjalan,” katanya.
Keterlibatan perajin tahu lokal dalam rantai pasok MBG menunjukkan bahwa program tersebut tidak hanya berorientasi pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mulai menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah. Dengan semakin banyak dapur MBG yang beroperasi, peluang bagi UMKM pangan lokal untuk menjadi bagian dari ekosistem penyedia bahan baku diperkirakan akan terus meningkat. (Ant)

































































