BATANG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan pangan harian anak-anak, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Pandangan tersebut disampaikan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Batang, Benny Abidin, yang menilai manfaat program baru akan terlihat dalam satu hingga dua dekade mendatang.
Menurut Benny, keberhasilan pemenuhan gizi seimbang sejak masa kehamilan, balita, hingga usia sekolah akan memberikan dampak besar terhadap kualitas generasi penerus bangsa, baik dari sisi kesehatan, kecerdasan, maupun produktivitas.
“Kalau program MBG sudah ada sejak 10 hingga 15 tahun yang lalu, bisa saja sekarang hafiz Al-Qur’an lebih banyak,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Kamis (23/7/2026).
Ia menilai kecukupan gizi memiliki hubungan erat dengan perkembangan fungsi otak dan kemampuan belajar anak. Karena itu, hasil program seperti MBG tidak dapat diukur hanya dalam hitungan bulan, melainkan membutuhkan waktu panjang hingga peserta didik memasuki usia produktif.
Selain berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan, Benny meyakini pemenuhan gizi yang baik juga dapat melahirkan lebih banyak talenta berprestasi di berbagai bidang, termasuk olahraga.
“Bisa juga terjadi sepak bola kita bisa masuk Piala Dunia,” katanya.
Menurut Benny, manfaat MBG tidak berhenti pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Program tersebut juga diyakini memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian daerah melalui meningkatnya permintaan bahan pangan.
Kebutuhan pasokan makanan bergizi setiap hari, lanjut dia, membuka peluang yang lebih besar bagi petani, peternak, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan di tingkat lokal.
“Kebutuhan bahan pangan harian untuk program ini menjadi angin segar bagi para petani, peternak, hingga pelaku UMKM lokal, sekaligus membuka banyak lapangan kerja baru,” jelasnya.
Terkait masih adanya pro dan kontra terhadap pelaksanaan MBG, Benny menilai perbedaan pandangan tersebut lebih disebabkan oleh belum meratanya pemahaman masyarakat mengenai tujuan serta manfaat jangka panjang program.
“Mengenai adanya berbagai tanggapan pro dan kontra mungkin karena ketidaktahuan atau kurang memahami manfaat program ini. Kami menilai program MBG sangat tepat,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melihat MBG sebagai investasi pembangunan manusia, bukan sekadar program bantuan konsumsi.
Menurutnya, kualitas generasi muda yang sehat, cerdas, dan berdaya saing akan menjadi modal utama Indonesia dalam menghadapi tantangan pembangunan di masa depan.
“Investasi terbesar dari program ini adalah kualitas manusia penerus Indonesia. Kalau ingin Indonesia cerdas, Indonesia kuat, mari kita dukung bersama program ini,” tuturnya.
MBG merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi peserta didik, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Selain mendukung upaya penurunan stunting dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, program ini juga dirancang untuk memperkuat rantai pasok pangan lokal melalui keterlibatan petani, peternak, koperasi, dan pelaku UMKM sebagai penyedia bahan baku.

































































