MAMUJU – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulawesi Barat, Dr. H. Adnan Nota, M.A., mengajak para santri memperkuat nilai spiritual sekaligus meningkatkan kepedulian sosial. Menurutnya, pemahaman agama harus diwujudkan melalui perilaku yang bermanfaat bagi orang lain.
Pesan tersebut disampaikan Adnan saat menghadiri istighosah, Maulid Nabi Muhammad SAW, dan Haul Muassis Pondok Pesantren Modern (PPM) Darul Mahfudz di Mamuju, Rabu malam (21/10/2026). Kegiatan itu digelar dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026 dengan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”.
Dalam sambutannya, Adnan menjelaskan bahwa ketiga rangkaian kegiatan keagamaan tersebut tidak sekadar menjadi tradisi, tetapi juga mengandung nilai yang dapat menjadi pedoman bagi santri dalam menjalani kehidupan.
Ia mengawali arahannya dengan membahas makna istighosah sebagai bentuk penghambaan sekaligus kesadaran manusia atas keterbatasannya di hadapan Allah SWT.
“Karena kita ini makhluk yang tergantung kepada Allah. Yang kedua, doa itu sendiri adalah ibadah,” ungkap Adnan.
Menurutnya, doa mengajarkan manusia untuk senantiasa berharap dan berserah diri kepada Allah SWT. Nilai tersebut penting ditanamkan kepada santri agar mereka memiliki landasan spiritual yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Penyampaian materi berlangsung secara interaktif. Adnan sesekali mengajukan pertanyaan kepada para santri untuk mendorong mereka memahami makna di balik amalan keagamaan yang dijalankan. Suasana kegiatan juga dibuat lebih cair melalui humor dan contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Selain membahas istighosah, Adnan menguraikan makna haul muassis atau peringatan wafat pendiri pesantren. Ia mengatakan, haul bukan hanya kesempatan untuk mendoakan mereka yang telah meninggal dunia, tetapi juga momentum mengenang dan meneruskan nilai-nilai kebaikan yang diwariskan semasa hidup.
Menurut Adnan, keteladanan para pendahulu semestinya menjadi inspirasi bagi santri untuk membangun karakter yang peduli, gemar menolong, dan bersedia berbagi dengan sesama.
Ia mengingatkan bahwa kebermanfaatan seseorang tidak hanya diukur dari pengetahuan atau ibadah personal, tetapi juga dari kontribusi nyata yang diberikan kepada orang lain.
Pesan tersebut sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW mengenai pentingnya menjadi manusia yang memberikan manfaat bagi sesamanya. Karena itu, santri diharapkan tidak berhenti pada penguasaan ilmu agama, tetapi mampu menerapkannya dalam perilaku sehari-hari.
Nilai kepedulian sosial tersebut juga relevan dengan peran santri di tengah masyarakat. Bekal keagamaan yang diperoleh di pesantren dapat menjadi dasar untuk membangun solidaritas, membantu masyarakat yang membutuhkan, serta menciptakan kehidupan sosial yang lebih harmonis.
Dalam rangkaian berikutnya, Adnan membahas makna peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ia mengajak para santri memperkuat kecintaan kepada Rasulullah melalui pembiasaan membaca salawat.
“Kunci dari semua doa itu salawat,” pesannya.
Adnan mendorong para santri agar memperbanyak salawat bukan hanya ketika mengikuti peringatan Maulid, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, amalan yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kehidupan spiritual sekaligus memperbaiki kualitas diri.
Melalui peringatan Maulid, para santri juga diajak menjadikan keteladanan Rasulullah sebagai inspirasi dalam membangun akhlak dan hubungan dengan sesama.
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Kementerian Agama, pimpinan dan pengasuh pondok pesantren, kepala madrasah, serta para santri yang mengikuti rangkaian acara.
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di PPM Darul Mahfudz menjadi momentum untuk menegaskan bahwa pendidikan pesantren tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga pembentukan karakter dan kepedulian sosial.
Melalui istighosah, santri diajak memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. Melalui haul muassis, mereka diingatkan untuk meneruskan keteladanan para pendahulu. Sementara itu, Maulid Nabi menjadi kesempatan untuk memperdalam kecintaan kepada Rasulullah dan meneladani akhlaknya.
Ketiga nilai tersebut diharapkan menjadi bekal bagi generasi santri untuk berkontribusi lebih luas bagi masyarakat. Sejalan dengan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, santri diharapkan tumbuh sebagai generasi yang kuat secara spiritual, berakhlak mulia, dan mampu menghadirkan manfaat nyata bagi bangsa.
































































