Banyuwangi – Menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali, November mendatang, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik atau Kesbangpol Banyuwangi, menggelar Forum Lintas Agama, berkolaborasi dengan Datasemen Khusus (Densus) 88.
Kegiatan Fasilitasi Forum Lintas Agama bertajuk ” Dialog Remaja Lintas Agama Dalam Upaya Merawat Kerukunan Umat Beragama dan Toleransi” terselenggara di Balai Desa Setail Kecamatan Genteng, pada Selasa (11/10/2022).
Plt Kepala Kesbangpol Banyuwangi, Muhamad Lutfi menjelaskan, kegiatan yang diadakan merupakan upaya untuk menciptakan kondisi yang aman dari intoleran dengan fokus utama menangkal radikal dengan arah terorisme.
“Kita berkoordinasi dengan Densus 88 untuk mengkondusifkan tindakan intolerisme yang dapat mengarah ke terorisme jelang KTT G20 di Bali,” tuturnya.
Dengan menanamkan nilai-nilai wawasan kebangsaan yang bersumber dari 4 Pilar Bangsa, dan menciptakan kerukunan dan toleransi kepada pemuda-pemuda lintas agama khususnya di wilayah Genteng, diharapkan semua elemen kepercayaan dapat kompak dan bersinergi untuk saling mendukung.
Keseluruhan kurang lebih 150 pemuda dari berbagai lintas agama hadir dalam acara ini. Mulai dari Islam NU, Muhammadiyah, LDII, pemuda Kristen Katolik protestan, Hindu, Budha dan juga Konghucu. Dihadiri juga lembaga pemerintahan setempat seperti, Camat Genteng Satriyo, dan Kepala Desa Setail, Saifudin.
Hadir sebagai pemateri dosen pasca sarjana dari Universitas PGRI Jember, Widiyanto Hendro Wiyono, dan pengasuh dari Pondok Pesantren Darun Najah Annabawi Sukorejo Kecamatan Bangorejo, Ustad Moh. Yusuf Tajudin.
Widiyanto menyampaikan mengenai TRI-Kerukunan, yaitu beragama dengan tujuan untuk menjaga kehidupan masyarakat antar umat beragama supaya hidup dengan harmonis dan berdampingan.
Kerukunan Internal umat beragama artinya dalam sebuah agama terbagi lagi menjadi bagian-bagian seperti contohnya NU, Muhammadiyah, dan yang lainya, yang meskipun keyakinan aliran mereka berbeda namun tuhan mereka tetap satu.
Kedua kerukunan umat beragama yang berarti perbedaan lintas agama harusnya bukan kendala, tidak ada mayoritas dan minoritas karena kita hidup dalam sebuah negara dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Dan yang ketiga adalah Kerukunan antar umat beragama dan Pemerintah yang artinya Semua lintas agama bisa terwadahi dalam sebuah kenegaraan.
Yuslan Fajarilah selaku Sekretaris Ansor Genteng mengaku bahwa kegiatan ini sangat positif. Dimana, dalam satu wadah, secara keseluruhan berbagai elemen dapat berkumpul tanpa sekat.
“Kita bisa berkenalan dengan teman-teman yang berbeda keyakinan, ini dapat menumbuhkan sikap toleran, saling menghargai dan menghormati,” katanya

































































