Jakarta – Presiden Timor Leste, José Ramos-Horta, memberikan apresiasi terhadap keberhasilan Indonesia menjaga toleransi dan persatuan di tengah keberagaman agama, suku, dan budaya. Menurutnya, Indonesia telah menunjukkan kepada dunia bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan yang menyatukan, bukan sumber perpecahan.
Pernyataan itu disampaikan Ramos-Horta saat menjadi pembicara dalam forum Leadership Lecture yang digelar oleh Economic Research Institute for ASEAN and East Asia di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Dalam paparannya, peraih Nobel Perdamaian tersebut menilai keberhasilan Indonesia merawat harmoni sosial tidak terlepas dari kontribusi organisasi masyarakat sipil, khususnya dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
Menurut Ramos-Horta, kedua organisasi tersebut memiliki peran penting dalam memperkuat moderasi beragama serta menjaga kohesi sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
“Dua organisasi Muslim besar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, berhasil menjaga Indonesia menjadi negara yang sangat toleran,” ujarnya.
Ia menilai keberhasilan Indonesia dalam mengelola keberagaman menjadi sesuatu yang patut dicontoh banyak negara. Di berbagai belahan dunia, perbedaan identitas sering kali memicu konflik dan polarisasi, sementara Indonesia mampu mempertahankan stabilitas sosial melalui budaya dialog dan saling menghormati.
Ramos-Horta juga menyoroti pentingnya peran tokoh agama dan kalangan akademisi dalam memperkuat persatuan nasional. Menurut dia, upaya membangun toleransi tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Ramos-Horta turut mengaitkan pengalaman Indonesia dengan perjalanan Timor-Leste yang kini menjadi anggota terbaru ASEAN. Ia berharap negaranya dapat belajar dari pengalaman Indonesia dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai dan inklusif.
Salah satu momen yang paling berkesan baginya adalah saat kunjungan apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia pada September 2024. Ramos-Horta mengaku tersentuh melihat simbol persaudaraan lintas agama yang ditunjukkan dalam pertemuan di Masjid Istiqlal.
Ia secara khusus menyinggung momen ketika Menteri Agama yang saat itu menjabat sebagai Imam Besar Istiqlal, Nasaruddin Umar, mencium dahi Paus Fransiskus dalam pertemuan lintas agama.
“Momen tersebut sangat cantik, dan fotonya yang tersiar membawa dampak positif yang sangat besar bagi dunia,” kata Ramos-Horta.
Selain itu, ia juga mengaku terkesan dengan keberadaan Gereja Katedral Jakarta yang berdiri berseberangan dengan Masjid Istiqlal. Bagi Ramos-Horta, pemandangan tersebut menjadi simbol kuat bahwa perbedaan keyakinan dapat hidup berdampingan dalam suasana damai dan penuh penghormatan.
“Di negara dengan populasi Muslim terbesar sedunia ada katedral yang hidup di tengah-tengahnya. Saya berharap semoga bisa terus seperti itu,” ujarnya.
Pujian Ramos-Horta menjadi pengakuan internasional atas keberhasilan Indonesia menjaga persatuan dalam keberagaman. Di tengah meningkatnya tantangan polarisasi dan konflik identitas di sejumlah negara, Indonesia dinilai mampu menunjukkan bahwa toleransi dan dialog tetap menjadi fondasi penting bagi stabilitas dan kemajuan bangsa.
































































