Banyuwangi – Kampung Moderasi di Kelurahan Karangrejo, Kecamatan/Kabupaten Banyuwangi menjadi contoh kerukunan umat beragama. Berpuluh-puluh tahun mereka hidup berdampingan dan menjaga kerukunan satu sama lain. Warga Kelurahan Karangrejo memeluk keyakinan yang berbeda-beda.
Pemeluk agama Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan Konghucu ada di sana. Tempat beribadatan lintas keyakinan juga berdiri. Beberapa saling berdekatan. Warga terbiasa ikut memeriahkan ketika salah satu agama menggelar kegiatan hari besar. Salah satu contohnya ketika warga Tionghoa menggelar perayaan Festival Imlek, Jumat-Sabtu (3-4/2/2023).
Seluruh masyarakat tampak antusias datang meramaikan festival tahunan itu. Bahkan, perwakilan antaragama juga sepekat untuk mendeklarasikan wilayahnya sebagai Kampung Moderasi besamaan dalam puncak Festival Imlek, Sabtu lalu.
Deklarasi Kampung Moderasi itu dibacakan oleh para pengurus moderasi beragama Kelurahan Karangrejo. Mereka terdiri dari tiga belas orang perwakilan tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Dalam deklarasi itu, mereka sepakat untuk menjaga kerukunan yang antikekerasan serta menolak radikalisme-terorisme.
“Dengan mengedepankan toleransi, persaudaraan, guyup rukun, dan perdamaian. Menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika, setiap pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, serta senantiasa menjaga keutuhan NKRI,” kata mereka, saat membacakan ikrar dihadapain ratusan warga yang hadir.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengapresiasi upaya menjaga kerukunan antarumat beragama melalui Kampung Moderasi.
Ipuk meyakini, kerukunan di Kelurahan Karangerjo akan terus terpupuk dengan kesadaran masyarakatnya untuk selalu hidup berdampingan.
Di Karangrejo, kata dia, budaya-budaya lintas agama menjadi salah satu perekat satu sama lain.
“Sehingga itu meningkatkan kerukunan dalam keberagamaan. Masyarakatnya berusaha memahami satu sama lain dengan budaya-budaya yang beragam,” kata Ipuk, saat menghadiri Deklarasi Kampung Moderasi.
Upaya-upaya seperti itu, lanjut Ipuk, juga mendukung pemkab untuk mewujudkan perajutan harmoni antarmasayrakat di Banyuwangi.
“Tradisi Festival Imlek seperti saat ini merupakan budaya Tionghoa yang bisa menjadi pembelajaran baru bagi masyarakat Banyuwangi soal kebudayaan yang mungkin belum banyak diketahui orang,” lanjutnya.
Ipuk berharap kerukunan antarwarga dan umat beragama bakal bermuara pada kesadaran akan kolaborasi.
Dengan kolaborasi itu, langkah-langkah untuk menangani berbagai persoalan di Banyuwangi bakal lebih mudah, termasuk untuk menurunkan angka kemiskinan ekstrem, menurunkan angka stunting, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Plt Kepala Persatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Banyuwangi M Lutfi menambahkan, deklarasi Kampung Moderasi bersamaan dengan momentum Hari Persaudaraan Internasional.
Ia berharap hari besar yang dirayakan di seluruh dunia itu bisa menjadi referensi bagi para warga di Kelurahan Karangrejo untuk memetik makna-makna filosifnya.
“Banyuwangi juga telah dicanangkan sebagai Kota Welas Asih pertama di Indonesia. Pada 2019, Karangrejo juga telah menjadi kampung sadar kerukunan yang mana enam agama lengkap ada di sini,” sambungnya.

































































