Mataram – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah pusat memberi dampak signifikan bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB). Tak hanya menekan potensi kekurangan gizi, program ini juga membuka ribuan lapangan kerja baru dan menggerakkan ekonomi lokal.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) MBG NTB, Ahsanul Khalik, menjelaskan bahwa hingga 1 November 2025, tercatat 409 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi di wilayahnya. Dari jumlah tersebut, 402 dikelola oleh mitra masyarakat, 4 oleh pondok pesantren, sementara 3 lainnya oleh instansi TNI AU Lanud ZAM dan Polri.
“Selain itu, masih ada 84 SPPG yang sedang dalam tahap pembangunan dan diharapkan dapat beroperasi penuh pada akhir November,” ujar Ahsanul di Mataram, Selasa (4/11/2025).
Dari ratusan SPPG tersebut, program MBG berhasil menyerap 17.434 tenaga kerja lokal, melibatkan 1.391 pemasok, 738 pelaku UMKM, 46 koperasi, 6 BUMDes, dan 601 pemasok mandiri.
“Jadi, dari 409 SPPG yang sudah aktif, ada lebih dari 17 ribu warga NTB yang kini mendapatkan pekerjaan tetap,” tutur Ahsanul.
Selain memastikan pemenuhan gizi bagi anak sekolah, ibu hamil, dan menyusui, program MBG juga menjadi instrumen penguatan ekonomi daerah. “Program ini tidak hanya menyehatkan generasi, tetapi juga menghidupkan ekonomi keluarga,” tambahnya.
Dari sisi kualitas dan keamanan pangan, Ahsanul menyebut hingga awal November, 361 SPPG (atau 88,3%) telah mengajukan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Sebanyak 279 di antaranya telah menerima sertifikat resmi, dan 301 SPPG telah menjalani inspeksi kesehatan lingkungan. Dari hasil pemeriksaan, 233 dinyatakan laik operasi dan laik gizi.
Selain itu, 306 SPPG telah mengikuti pelatihan keamanan pangan, melibatkan 14.386 petugas penjamah makanan terlatih. “Kita bersyukur progresnya bagus. Namun tetap perlu kewaspadaan, karena keamanan pangan adalah aspek vital dalam MBG,” tegasnya.
Pemprov NTB menargetkan pembangunan 623 SPPG secara total, dengan sasaran 1,85 juta penerima manfaat yang mencakup anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui. Program ini juga ditargetkan mampu menyerap hampir 30 ribu tenaga kerja lokal. (Ant?

































































