Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada peningkatan gizi masyarakat, tetapi juga diproyeksikan menjadi katalis besar bagi transformasi sektor peternakan nasional.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sony Sonjaya, menyebut program ini berpotensi menciptakan pasar baru berskala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation di Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, Sabtu (28/3).
Menurut Sony, skema MBG yang didukung pendanaan pemerintah untuk bahan baku pangan—termasuk susu, daging, dan telur—memberikan kepastian permintaan bagi pelaku usaha peternakan. Hal ini dinilai mampu mendorong peningkatan produksi sekaligus menarik investasi baru.
“Pendanaan bahan baku oleh MBG menciptakan kepastian pasar, sehingga sektor peternakan memiliki ruang untuk tumbuh lebih cepat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, MBG akan membentuk pasar captive untuk komoditas protein hewani dalam skala masif. Program ini diperkirakan memicu permintaan hingga miliaran kilogram produk peternakan, yang secara langsung akan mengubah struktur industri, khususnya subsektor susu dan unggas.
Dari sisi kebutuhan produksi, lonjakan tersebut setara dengan tambahan sekitar 800 ribu sapi perah, 1,6 miliar ayam pedaging, serta lebih dari 70 juta ayam petelur. Skala ini disebut sebagai lompatan besar dalam sejarah pengembangan peternakan nasional.
Namun, di balik peluang tersebut, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi. Mulai dari kesiapan kapasitas produksi, distribusi yang belum merata, hingga potensi disparitas harga antarwilayah.
Selain itu, isu ketergantungan impor bahan baku pakan serta perlunya regenerasi peternak juga menjadi perhatian agar pertumbuhan sektor ini dapat berlangsung berkelanjutan.
Di sisi lain, Sony menilai implementasi MBG membuka peluang luas, mulai dari peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, hingga penguatan rantai pasok domestik.
Keberhasilan program ini, menurutnya, sangat bergantung pada sinergi lintas sektor, termasuk dukungan riset, kebijakan yang adaptif, serta kolaborasi antara pemerintah, industri, dan pelaku usaha.
“Jika dikelola dengan tepat, MBG bukan hanya memperbaiki gizi masyarakat, tetapi juga menjadi mesin penggerak ekonomi berbasis peternakan yang inklusif,” kata Sony. (Ant)

































































