Cianjur – Peringatan Hari Bumi digelar di Teras 5 situs megalitikum Gunung Padang pada Rabu (22/4/2026) pagi. Puluhan orang dari lintas keyakinan berkumpul dalam suasana hening, mereka memanjatkan doa bersama sebagai bentuk refleksi atas kondisi lingkungan yang dinilai semakin rentan terhadap kerusakan dan bencana.
Kegiatan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai seremoni spiritual, tetapi juga refleksi kolektif atas hubungan manusia dengan alam. Inisiator kegiatan, Dar Edi Yoga, mengatakan doa lintas spiritualitas itu lahir dari kesadaran bersama untuk mengingatkan pentingnya menjaga bumi.
“Kami tidak datang untuk meminta, tetapi untuk bersujud dalam syukur dan kesadaran. Bumi ini bukan untuk dieksploitasi tanpa batas, tetapi untuk dijaga. Ini adalah seruan tobat ekologis,” ujar Dar Edi Yoga.
Ia menilai kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini tidak hanya persoalan teknis, tetapi juga berkaitan dengan relasi manusia dengan alam yang mulai terputus. Menurutnya, manusia perlu kembali membangun kesadaran untuk hidup selaras dengan lingkungan.
“Jika manusia lupa cara menghormati bumi, maka alam akan mengingatkan dengan caranya sendiri,” katanya.
Suasana doa berlangsung khidmat ketika para bhiksu, insan pers, serta komunitas lintas agama dan pegiat lingkungan melantunkan doa bersama. Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Arman Suparman, Raldy Doy, dan Asun Gotama.
Asun Gotama menilai menjaga alam tidak bisa dilepaskan dari kesadaran batin. Ia menyebut harmoni dengan alam merupakan bagian dari praktik kebijaksanaan dalam ajaran Buddha.
“Ketika manusia hidup dengan kesadaran, welas asih, dan tidak serakah, maka alam pun akan terjaga,” ujarnya.
Senada, Kent Dixon mengatakan kepedulian terhadap lingkungan merupakan tanggung jawab bersama lintas iman. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan momentum Hari Bumi sebagai penguatan kebersamaan dalam menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Gunung Padang dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dianggap sebagai ruang refleksi peradaban. Situs purbakala tersebut dinilai menjadi tempat yang tepat untuk mengingatkan manusia tentang asal-usul serta tanggung jawab menjaga bumi.
Kegiatan ini merupakan yang pertama digelar di lokasi tersebut dengan dukungan sejumlah pihak, antara lain WALUBI, Artha Graha Peduli, serta partisipasi PT QMB New Energy Materials.
CEO PT QMB New Energy Materials Pan Hua mengatakan keikutsertaan perusahaannya merupakan bagian dari komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan, khususnya dalam mendukung transisi energi hijau melalui industri baterai kendaraan listrik.
“Melalui doa bersama dan aksi nyata ini, kami menegaskan dedikasi untuk tidak hanya menggerakkan industri, tetapi juga merawat bumi sebagai warisan bersama,” ujarnya.
Pertemuan lintas keyakinan ini menyampaikan pesan bahwa menjaga bumi tidak cukup hanya melalui kebijakan dan teknologi. Kesadaran kolektif dan perubahan perilaku manusia dinilai menjadi kunci untuk membangun hubungan yang lebih harmonis antara manusia dan alam.

































































