Surabaya – Ribuan peternak ayam petelur di Jawa Timur tengah menghadapi tekanan berat akibat merosotnya harga telur dalam beberapa pekan terakhir. Produksi yang melimpah tidak sebanding dengan daya serap pasar, membuat harga telur jatuh hingga berada di bawah harga pokok produksi (HPP).
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran di sejumlah sentra peternakan karena peternak mulai kesulitan menutup biaya operasional, terutama harga pakan yang masih tinggi. Pemerintah Provinsi Jawa Timur kini berupaya menahan gejolak dengan memperbesar penyerapan telur melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan membuka pasar ekspor baru.
Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur, Indyah Aryani, mengatakan Jawa Timur selama ini menjadi daerah dengan populasi unggas terbesar di Indonesia. Tingginya populasi ayam petelur membuat produksi telur di wilayah tersebut selalu surplus.
“Produksi telur kita memang sangat besar karena populasi unggas di Jawa Timur tertinggi secara nasional. Selama ini posisi Jawa Timur selalu surplus,” kata Indyah, Senin (25/5/2026).
Namun, tingginya produksi justru menjadi persoalan ketika pasar tidak mampu menyerap pasokan secara optimal. Harga telur di tingkat peternak pun terus merosot.
Di beberapa daerah sentra peternakan, kondisi itu bahkan memicu aksi pembagian telur gratis karena stok menumpuk dan sulit terjual.
“Permintaan pasar melemah sementara produksi sudah telanjur tinggi. Ada peternak yang sampai membagikan telur gratis karena gudangnya penuh,” ujarnya.
Indyah menjelaskan, sebelumnya banyak peternak meningkatkan kapasitas produksi karena memperkirakan kebutuhan akan melonjak menjelang hari raya dan pelaksanaan program MBG secara masif.
Akan tetapi, penyerapan yang diharapkan belum terjadi sesuai proyeksi sehingga pasokan membeludak di tingkat peternak.
“Peternak sudah bersiap menghadapi peningkatan kebutuhan MBG dan momen hari raya. Tetapi realisasi penyerapannya belum sebesar yang diperkirakan,” jelasnya.
Untuk meredam kejatuhan harga, Pemprov Jawa Timur bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Kementerian Pertanian kini mendorong peningkatan konsumsi telur melalui program MBG.
Salah satu langkah yang disiapkan ialah penambahan menu telur dalam paket makanan yang disalurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Kami sudah berkoordinasi agar menu telur diperbanyak di dapur MBG supaya produksi peternak bisa lebih terserap,” katanya.
Pemerintah juga mengajak masyarakat meningkatkan konsumsi protein hewani dengan membeli telur lokal guna membantu menjaga stabilitas harga di tingkat peternak.
Di sisi lain, tantangan lain datang dari mahalnya harga jagung yang menjadi komponen utama pakan ayam. Harga jagung saat ini berada di kisaran Rp6.500 hingga Rp7.000 per kilogram.
Padahal, menurut Indyah, jagung menyumbang sekitar 50 sampai 60 persen biaya produksi pakan ternak. Kondisi itu membuat margin keuntungan peternak semakin tertekan ketika harga telur turun drastis.
Pemerintah kini menyiapkan skema subsidi jagung melalui Bulog dan Bapanas agar peternak bisa memperoleh bahan baku pakan dengan harga lebih rendah, yakni sekitar Rp5.000 per kilogram melalui koperasi peternak.
Selain memperkuat pasar domestik, Jawa Timur juga mulai agresif membuka peluang ekspor produk peternakan untuk mengurangi ketergantungan pada pasar lokal yang mulai jenuh.
Sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Timor Leste, hingga Jepang disebut mulai dijajaki sebagai tujuan ekspor baru.
Menurut Indyah, Jepang menunjukkan ketertarikan terhadap telur dan produk frozen meat ayam asal Jawa Timur setelah melakukan analisis risiko terhadap produk peternakan Indonesia.
“Jepang tertarik mengambil telur dan frozen meat ayam dari Jawa Timur. Ini menjadi peluang besar untuk membantu menyerap produksi peternak,” ujarnya.
Pemerintah berharap kombinasi peningkatan serapan MBG, subsidi pakan, dan pembukaan pasar ekspor dapat menjadi jalan keluar agar harga telur kembali stabil dan usaha peternak tetap bertahan di tengah tekanan pasar.

































































