Jakarta – Anugerah Jurnalistik Muhammad Hoesni Thamrin (MHT Awards) 52-2026 mencatat tonggak baru dalam sejarah penyelenggaraannya. Sebanyak 770 karya jurnalistik dari berbagai platform media berhasil terhimpun hingga batas akhir pendaftaran pada 31 Mei 2026, menjadikannya jumlah peserta terbanyak sejak ajang tersebut digelar.
Peningkatan partisipasi tersebut menunjukkan tingginya antusiasme insan pers dalam mengikuti kompetisi jurnalistik yang diselenggarakan bekerja sama dengan Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi DKI Jakarta.
Ratusan karya yang masuk berasal dari tujuh kategori utama, yakni televisi streaming, televisi terestrial, teks, infografis, radio, tajuk rencana, dan foto. Seluruh karya merupakan hasil publikasi selama periode 1 Juni 2025 hingga 31 Mei 2026.
Dari total karya yang diterima, kategori foto menjadi yang paling diminati dengan 265 karya. Disusul kategori teks sebanyak 210 karya, televisi terestrial 150 karya, televisi streaming 80 karya, infografis 40 karya, tajuk rencana 25 karya, dan radio sebanyak lima karya.
Tahapan berikutnya, seluruh karya akan memasuki proses penjurian oleh dewan juri yang dipimpin akademisi komunikasi Dr. Bagus Sudarmanto bersama sejumlah praktisi dan pakar media nasional. Tim juri dijadwalkan mulai bekerja dalam pekan ini untuk menyeleksi karya terbaik dari masing-masing kategori.
Tahun ini, MHT Awards tidak hanya menjadi ruang apresiasi bagi karya jurnalistik terbaik. Panitia juga menghadirkan kategori khusus bertajuk “Menyongsong 5 Abad Jakarta” sebagai bagian dari rangkaian menuju peringatan 500 tahun Kota Jakarta pada 2027.
Ketua Pelaksana MHT Awards 2026, Arman Suparman, mengatakan kategori tersebut dirancang untuk mendorong lahirnya karya jurnalistik yang mampu melihat Jakarta secara lebih utuh, tidak sekadar melalui peristiwa harian, tetapi juga dalam perspektif sejarah dan masa depan.
“Momentum lima abad Jakarta merupakan peristiwa yang sangat penting. Karena itu kami ingin mendorong lahirnya karya-karya yang tidak hanya mendokumentasikan perjalanan kota ini, tetapi juga memberikan refleksi dan gagasan bagi masa depannya,” ujar Arman.
Melalui tema besar “Jurnalisme untuk Jakarta: Merawat Sejarah, Mengawal Masa Depan”, penyelenggara menempatkan pers sebagai bagian penting dalam menjaga memori kolektif kota sekaligus mengawal arah pembangunan ibu kota.
Kategori khusus tersebut terbuka bagi karya feature dalam format teks, radio, maupun video yang mengangkat berbagai isu strategis, mulai dari sejarah Jakarta, transformasi sosial budaya, pembangunan perkotaan, lingkungan hidup, transportasi, hingga dinamika masyarakat urban.
Ketua PWI Jaya, Kesit B. Handoyo, menilai momentum lima abad Jakarta tidak boleh dipandang sekadar seremoni. Menurutnya, pers memiliki tanggung jawab untuk mendokumentasikan perjalanan kota sekaligus memberikan perspektif kritis terhadap tantangan yang dihadapi Jakarta ke depan.
“Pers bukan hanya mencatat peristiwa, tetapi juga menjaga ingatan sebuah kota. Menjelang lima abad Jakarta, kami berharap lahir karya-karya yang bisa menjadi warisan intelektual bagi generasi mendatang,” katanya.
Dukungan terhadap kategori khusus tersebut juga datang dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Diskominfotik. Pemerintah daerah menilai ajang ini dapat memperkaya dokumentasi perjalanan Jakarta sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun semangat publik menyambut usia emas ibu kota.
Panitia membuka pengiriman karya kategori “Menyongsong 5 Abad Jakarta” hingga 30 Juni 2026. Pemenang utama akan memperoleh hadiah sebesar Rp10 juta.
Lebih dari sekadar kompetisi jurnalistik, MHT Awards 2026 diharapkan menjadi ruang refleksi bersama mengenai perjalanan panjang Jakarta, sekaligus mempertegas peran pers sebagai penjaga sejarah dan pengawal masa depan kota yang akan memasuki usia lima abad.

































































