Jakarta – Temuan ratusan siswa yang terpapar paham radikal melalui media sosial dan gim daring menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Di tengah masifnya arus informasi digital, keluarga dinilai memegang peran paling strategis dalam membangun ketahanan anak terhadap ideologi ekstrem.
Anggota Komisi XIII DPR RI, Meity Rahmatia, menegaskan bahwa upaya pencegahan radikalisme harus dimulai dari lingkungan rumah. Menurutnya, pola asuh dan kualitas komunikasi antara orang tua dan anak menjadi faktor penting dalam membentuk karakter sekaligus daya kritis generasi muda.
“Pembentukan karakter anak dimulai dari keluarga, termasuk bagaimana orang tua mendampingi dan mengawasi penggunaan media sosial,” ujar Meity dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Pernyataan tersebut merespons data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme yang mengungkap sebanyak 112 siswa di 26 provinsi teridentifikasi terpapar paham radikal. Sebagian besar kasus terjadi melalui interaksi di media sosial dan gim daring yang memanfaatkan kedekatan emosional dengan anak-anak.
Meity menilai pengawasan penggunaan gawai saja tidak cukup. Orang tua perlu membangun hubungan yang hangat dan terbuka agar anak memiliki ruang untuk berdiskusi serta mampu menyaring berbagai informasi yang diterimanya.
Menurut dia, pendidikan agama yang moderat, lingkungan pergaulan yang sehat, dan keterlibatan anak dalam komunitas positif menjadi bagian penting dari strategi pencegahan.
“Harus ada kedekatan emosional antara anak dan orang tua. Kehadiran orang tua tidak selalu berarti harus bersama secara fisik, tetapi dapat diwujudkan melalui komunikasi yang intens dan perhatian yang konsisten,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pendampingan bukan berarti memanjakan anak. Sebaliknya, pengasuhan yang tepat akan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, kritis, dan tidak mudah terpengaruh ajakan yang mengarah pada kekerasan maupun pelanggaran hukum.
Sebelumnya, Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Titi Eko Rahayu, menjelaskan bahwa kelompok penyebar paham radikal kini semakin aktif memanfaatkan ruang digital. Mereka menggunakan percakapan pribadi, komunitas daring tertutup, hingga algoritma platform digital untuk menjangkau anak dan remaja.
Kondisi tersebut menjadi alarm bagi pemerintah, sekolah, dan keluarga untuk memperkuat literasi digital sekaligus meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak di dunia maya.
Meity menegaskan bahwa pencegahan radikalisme bukan hanya tugas aparat atau pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
“Yang terpenting adalah memastikan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang sehat, memiliki kemampuan berpikir kritis, dan tidak mudah terjerumus pada paham yang bertentangan dengan nilai kebangsaan maupun kemanusiaan,” ujarnya.
































































