DENPASAR — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Kampung Islam Kepaon, Kelurahan Pemogan, Denpasar, tidak sekadar menjadi momentum syiar keagamaan. Pawai Ta’aruf Li Maulidur Rasul yang digelar Selasa (25/8/2026) juga menjadi panggung kebersamaan yang memperlihatkan kuatnya tradisi toleransi dan kebhinekaan masyarakat Bali.
Sekitar 1.500 warga Kampung Islam Kepaon mengikuti pawai yang menjadi agenda tahunan tersebut. Nuansa keagamaan berpadu dengan tradisi lokal, termasuk kehadiran kesenian Tari Rudat dan peserta khitanan massal yang diarak menggunakan kuda.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak pukul 07.00 WITA. Setelah pawai, warga melanjutkan kegiatan dengan salawat dan zikir Barzanji yang berlangsung hingga menjelang salat Zuhur. Acara kemudian dilanjutkan dengan khitanan massal dan tausiyah.
Ketua Umum Yayasan Masjid Besar Al-Muhajirin Kepaon, Fathurrahim, mengatakan peringatan Maulid Nabi menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai keteladanan Rasulullah sekaligus menjaga tradisi yang telah diwariskan masyarakat Kampung Islam Kepaon.
“Syiar untuk meneladani Nabi kita dirangkai dengan beberapa kegiatan, di antaranya melakukan zikir Barzanji kurang lebih delapan jam sampai menjelang salat Zuhur, dilanjutkan khitan massal,” ujar Fathurrahim.
Sebanyak 37 anak mengikuti khitanan massal. Mereka tidak hanya menjadi peserta kegiatan sosial keagamaan, tetapi juga ikut dalam kemeriahan pawai dengan menunggang kuda. Kehadiran Tari Rudat yang mengiringi rombongan menjadi bagian dari tradisi yang terus dipertahankan.
Menurut Fathurrahim, perpaduan antara kegiatan keagamaan dan tradisi tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi bagian penting dalam merawat kehidupan masyarakat yang beragam.
Kehadiran keluarga Puri Agung Pemecutan dalam peringatan Maulid Nabi semakin memperlihatkan kuatnya hubungan sosial antara masyarakat Kampung Islam Kepaon dan keluarga kerajaan tersebut.
Anak Agung Ngurah Agung Damar Negara, putra Ida Cokorda Pemecutan XI Denpasar, mengatakan hubungan antara Kampung Islam Kepaon dan Puri Agung Pemecutan telah berlangsung secara turun-temurun. Ikatan tersebut tidak hanya dibangun melalui hubungan sosial, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah panjang kehidupan masyarakat Bali yang menjunjung kebersamaan di tengah perbedaan.
“Kami sebagai pewaris dari keluarga besar Puri Agung Pemecutan, menjadi kehormatan bagi kami untuk bisa hadir di tengah saudara-saudara kami di Kampung Islam Kepaon,” kata Agung Damar.
Ia menegaskan, nilai toleransi dan kebhinekaan yang dirawat masyarakat Kampung Islam Kepaon merupakan warisan para leluhur yang harus terus dijaga.
“Kami melanjutkan apa yang sudah dirintis para leluhur kami, yaitu kebhinekaan agama, toleransi antarumat beragama dalam bingkai kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.
Bagi Agung Damar, kehadiran keluarga Puri Pemecutan dalam kegiatan masyarakat Kampung Islam Kepaon bukan sekadar bentuk penghormatan terhadap perayaan keagamaan. Lebih dari itu, perjumpaan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat ikatan kekeluargaan yang telah terbangun lintas generasi.
Hubungan itu juga berlangsung dua arah. Jika keluarga Puri Agung Pemecutan hadir dalam kegiatan warga Kampung Islam Kepaon, masyarakat Kepaon pun turut ambil bagian dalam berbagai kegiatan di lingkungan Puri.
Salah satunya melalui Tari Rudat yang kerap ditampilkan dalam acara-acara adat di Puri Agung Pemecutan.
“Bukan hanya kami yang adat, saudara-saudara kami yang melaksanakan acara adat, diundang juga tarian Rudat ini. Jadi tetap terjaga sampai saat ini,” tutur Agung Damar.
Kampung Islam Kepaon menjadi salah satu gambaran bahwa toleransi tidak selalu harus diwujudkan melalui seremoni besar. Ia dapat tumbuh dari hubungan sosial yang sederhana, seperti saling menghadiri perayaan, melibatkan kesenian komunitas lain, hingga menjaga tradisi yang diwariskan bersama.
Pawai Maulid Nabi di Kepaon menunjukkan bagaimana identitas keagamaan dapat berjalan berdampingan dengan budaya lokal dan hubungan kekeluargaan lintas agama. Tradisi keislaman tetap hidup, sementara kebudayaan dan hubungan sosial masyarakat Bali terus mendapat ruang.
Di tengah keberagaman Indonesia, praktik semacam ini menjadi pengingat bahwa kebhinekaan bukan sekadar semboyan. Ia menjadi nyata ketika masyarakat mampu saling menghormati, merawat tradisi masing-masing, dan tetap membuka ruang kebersamaan.
Dari Kampung Islam Kepaon, peringatan Maulid Nabi pun tidak hanya menghadirkan syiar tentang keteladanan Rasulullah SAW, tetapi juga memperlihatkan bagaimana persaudaraan, toleransi, dan kebhinekaan dapat terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (AS)






























































