Oleh: Ahmad Damar
MotoGP Mandalika 2026 bukan sekadar tentang siapa yang paling cepat menikung di tikungan 10, atau siapa yang paling berani di trek lurus sepanjang 1,7 kilometer. Lebih dari itu, Mandalika adalah cermin. Cermin tentang bagaimana Indonesia ingin dilihat dunia: sebagai bangsa yang mampu mengelola keramaian tanpa kehilangan keramahan, menjaga keamanan tanpa menciptakan ketakutan, dan merayakan perbedaan tanpa harus saling meniadakan.
Tahun ini, sekitar 145.000 penonton akan memadati kawasan Mandalika. Bendera berbagai negara akan berkibar, bahasa yang berbeda akan saling bersahutan, dan kamera televisi dari puluhan negara akan menyorot satu titik yang sama di selatan Pulau Lombok. Di momen itulah, kebangsaan kita diuji bukan dengan pidato, melainkan dengan tindakan.
Kita sering memaknai kebangsaan sebagai sesuatu yang besar dan abstrak: upacara, hafalan Pancasila, atau seremonial kenegaraan. Padahal kebangsaan yang paling otentik justru lahir dari hal-hal kecil yang terjadi di sebuah event besar seperti ini. Ketika petugas keamanan memeriksa tiket dengan senyum, bukan dengan curiga. Ketika pedagang lokal diberi ruang untuk berjualan dan merasakan dampak ekonomi, bukan hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri. Ketika relawan dari berbagai suku dan agama bekerja bersama memastikan penonton difabel, lansia, dan anak-anak bisa menikmati balapan dengan aman. Di situlah kebangsaan dirajut.
Mandalika mengajarkan kita bahwa kebersamaan tidak datang dengan sendirinya. Ia harus direncanakan, dirawat, dan dijaga.
Pertama, kebersamaan berarti keamanan yang inklusif.
Keamanan MotoGP tidak bisa dimaknai sempit sebagai penjagaan ketat, kawat berduri, dan pemeriksaan berlapis. Keamanan yang dibutuhkan adalah keamanan yang humanis. Aparat TNI, Polri, penyelenggara, dan masyarakat lokal harus menjadi satu tim. Pengamanan berbasis deteksi dini dan pencegahan — melalui intelijen yang akurat, patroli dialogis, dan komunikasi yang terbuka dengan masyarakat — jauh lebih efektif daripada pengamanan yang represif.
Kewaspadaan terhadap potensi gangguan, termasuk ancaman terorisme dan provokasi intoleransi, memang wajib. Namun kewaspadaan itu harus diletakkan sebagai investasi ketenangan, bukan sebagai alasan untuk membangun kecurigaan terhadap kelompok tertentu. Terorisme adalah kejahatan ideologi kekerasan, bukan identitas agama, suku, atau warna kulit. Ketika kita salah menempatkan siapa yang harus diwaspadai, kita justru merusak modal terbesar kita: persatuan.
Kedua, kedamaian berarti ekonomi yang berkeadilan.
MotoGP akan menjadi pesta yang hambar jika hanya dinikmati oleh penonton di tribun VIP dan investor besar. Kebangsaan yang sejati memastikan bahwa riak ekonomi dari event internasional ini sampai ke warung-warung kecil, ke penginapan warga, ke perajin tenun, ke ojek lokal, dan ke UMKM kuliner.
Jika masyarakat Lingkar Mandalika merasa memiliki dan mendapatkan manfaat dari event ini, maka mereka akan menjadi benteng sosial yang paling kuat. Mereka yang akan pertama kali melaporkan jika ada hal mencurigakan, mereka yang akan menjaga kebersihan, dan mereka yang akan menyambut tamu dengan ketulusan. Kedamaian tidak bisa diimpor, ia harus ditumbuhkan dari rasa keadilan.
Ketiga, kebangsaan berarti narasi yang satu.
Di era media sosial, MotoGP Mandalika tidak hanya berlangsung di sirkuit, tapi juga di layar ponsel. Satu video provokatif yang disebar tanpa verifikasi, satu hoaks tentang isu keamanan, bisa merusak kerja keras berbulan-bulan. Karena itu, literasi digital menjadi bagian dari bela negara.
Masyarakat perlu diajak untuk menjadi kurator informasi: saring sebelum sharing, laporkan bukan viralkan, dan percaya pada saluran resmi. Pemerintah daerah, Diskominfo, dan penyelenggara harus aktif menyediakan informasi yang cepat, jernih, dan transparan agar ruang kosong tidak diisi oleh desas-desus.
Lebih jauh, Mandalika harus kita narasikan sebagai milik kita bersama. Bukan milik Lombok saja, bukan milik NTB saja, tapi milik Indonesia. Keberhasilan Mandalika adalah keberhasilan dari Sabang sampai Merauke. Ketika seorang pembalap melesat di tikungan dengan latar Samudera Hindia, yang dijual bukan hanya kecepatan, tapi cerita tentang Indonesia yang Bhinneka, yang damai, yang mampu.
Pada akhirnya, balapan akan selesai dalam 40 menit. Juara akan naik podium, lagu kebangsaan akan berkumandang, dan penonton akan pulang. Tapi apa yang tertinggal setelah itu jauh lebih penting daripada siapa yang finis pertama.
Yang tertinggal adalah apakah kita berhasil menunjukkan bahwa bangsa yang besar ini bisa merajut kebersamaan di tengah perbedaan yang begitu kaya. Apakah kita berhasil membuktikan bahwa kedamaian bukan berarti tanpa tantangan, tapi kemampuan mengelola tantangan dengan kepala dingin dan hati yang terbuka.
MotoGP Mandalika seharusnya menjadi laboratorium kebangsaan kita. Tempat di mana Pancasila tidak hanya dihafal, tapi dipraktikkan: Ketuhanan yang diwujudkan dalam toleransi antarumat beragama yang datang menonton bersama, Kemanusiaan yang diwujudkan dalam pelayanan ramah kepada semua tamu, Persatuan yang diwujudkan dalam kerja gotong royong, Kerakyatan yang diwujudkan dalam pelibatan warga lokal, dan Keadilan yang diwujudkan dalam pemerataan ekonomi.
Jika itu yang terjadi, maka Mandalika tidak hanya akan melahirkan juara dunia di lintasan. Ia akan melahirkan kembali rasa bangga kita sebagai bangsa Indonesia.
Adrenalin boleh berpacu di sirkuit. Tapi di luar pagar sirkuit, yang harus kita menangkan adalah ketenangan, kedamaian, dan kebersamaan sebagai satu bangsa.
Pencegahan, Edukasi, dan Kolaborasi
Intinya, Negara hadir tidak selalu dengan wajah penindakan, tapi dengan wajah pencegahan, edukasi, dan kolaborasi. Itulah ruh yang seharusnya dibawa ke Mandalika. Pengamanan Mandalika tidak boleh hanya dimaknai sebagai kehadiran ribuan personel berseragam. Keamanan terbaik adalah ketika masyarakat merasa menjadi bagian dari penjaga keamanan itu sendiri.
Dan di sinilah kita sering lupa pada dua kekuatan besar yang menentukan kedamaian: generasi muda dan perempuan.
Generasi muda adalah penonton terbesar MotoGP. Mereka yang paling aktif membuat konten, memviralkan Mandalika ke dunia melalui Instagram, TikTok, dan YouTube. Jika mereka hanya diposisikan sebagai penonton, kita kehilangan duta-duta kebangsaan yang paling otentik. Libatkan mereka sebagai content creator resmi, sebagai relawan digital yang meluruskan hoaks, sebagai penerjemah bahasa bagi wisatawan asing. Beri mereka ruang, maka mereka akan menjaga nama baik Mandalika seperti menjaga nama baik mereka sendiri.
Sementara itu, perempuan dan kelompok rentan sering absen dalam perencanaan keamanan. Padahal merekalah yang paling merasakan dampak jika sebuah event tidak aman dan tidak inklusif. Apakah jalur evakuasi aman bagi ibu yang membawa anak? Apakah ruang laktasi tersedia? Apakah penerangan di kantong parkir cukup untuk mencegah kejahatan konvensional? Kebangsaan yang ramah adalah kebangsaan yang memikirkan yang paling rentan.
Terakhir, kita harus bicara tentang warisan. Apa warisan Mandalika setelah knalpot terakhir berhenti meraung?
Jangan sampai Mandalika hanya menjadi panggung tahunan yang setelahnya sepi dan meninggalkan sampah. Warisan yang paling nasional adalah ketika sirkuit ini menjadi pusat pelatihan mekanik muda Indonesia, pusat riset pariwisata berkelanjutan, dan pusat ekonomi kreatif berbasis budaya Sasak.
Jika itu terjadi, maka merajut kebersamaan dan kedamaian bukan lagi jargon menjelang event. Ia menjadi ekosistem.
MotoGP Mandalika 2026 adalah ujian akhir: apakah kita bisa mengubah kerumunan menjadi kebersamaan, mengubah tontonan menjadi tuntunan, dan mengubah event internasional menjadi momentum pemersatu bangsa. Jika kita berhasil, maka yang kita menangkan bukan hanya balapan, tapi masa depan kebangsaan itu sendiri.
































































