Oleh: Ahmad Damar
Ketika dunia membicarakan Mandalika, yang terbayang adalah tikungan ke-10 yang menantang, aspal baru yang mulus, dan deru 22 motor MotoGP yang memekakkan telinga pada 9-11 Oktober 2026. Tapi ada satu hal yang tidak terlihat di layar kaca: mengapa Lombok, pulau dengan identitas Islam yang sangat kuat — Pulau Seribu Masjid — justru begitu sulit ditembus ideologi radikal teroris?
Jawabannya tidak ada di dalam sirkuit. Jawabannya ada di luar pagar sirkuit: di Bale Adat, di Berugak, di tradisi Begibung, di Gendang Beleq, dan di cara orang Lombok memaknai agama.
Menjelang MotoGP Mandalika 2026, Polda NTB menggelar Operasi Mandalika Rinjani 2026 dengan 2.678 personel, simulasi bom, dan pengamanan berlapis dari Poto Tano hingga Bukit Seger. Itu penting. Tapi pengamanan paling ampuh di Lombok bukanlah Jibom atau Gegana. Pengamanan paling ampuh adalah kebudayaan itu sendiri.
LOMBOK TIDAK MENGENAL AGAMA YANG MARAH
Orang Lombok dibesarkan dengan prinsip Tindih, Maliq, Merang — ajaran leluhur Sasak yang mengajarkan rasa malu untuk berbuat buruk, takut untuk melanggar norma, dan segan untuk menyakiti sesama. Ini bukan sekadar pepatah. Ini adalah sistem kontrol sosial yang hidup.
Ketika provokasi radikal datang dengan narasi kebencian yang mengkafir-kafirkan, ia akan bertabrakan dengan tradisi Begibung — makan bersama dalam satu nampan besar tanpa membedakan status. Dalam Begibung, tidak ada yang lebih tinggi. Semua duduk sama rendah. Bagaimana mungkin ideologi yang mengajarkan supremasi dan kebencian bisa tumbuh di atas nampan yang mengajarkan kesetaraan?
Begitu pula dengan tradisi Besorong Serah dalam perkawinan adat Sasak. Semua masalah diselesaikan dengan musyawarah di Berugak — balai bambu terbuka tanpa dinding. Berugak adalah simbol transparansi. Tidak ada yang tertutup, tidak ada yang diam-diam. Sementara radikalisme selalu tumbuh di ruang tertutup, di komunitas eksklusif yang merasa paling benar.
Lombok mengajarkan agama melalui kebudayaan yang ramah. Maka ketika ada yang datang membawa agama yang marah, masyarakat langsung tahu: ini bukan agama kami.
MASJID BUKAN MENARA KEBENCIAN, TAPI MERCUSUAR TOLERANSI
Julukan Pulau Seribu Masjid sering disalahpahami oleh orang luar sebagai potensi eksklusivisme. Justru sebaliknya. Di Lombok, masjid tidak pernah berdiri sendiri. Di sebelah masjid ada Pura. Di sebelah Pura ada Gereja. Di Mataram, Anda bisa mendengar azan Maghrib bersamaan dengan suara lonceng gereja dan kidung di Pura.
Inilah yang disebut oleh tokoh adat Sasak sebagai Perang Tanding Besi, Kuat Besi, Kuat Besi — tapi kuat dengan persaudaraan. Tradisi Peresean — pertarungan dua laki-laki dengan rotan dan perisai kulit — mengajarkan bahwa konflik harus diselesaikan secara jantan, terbuka, di arena, dan setelah itu bersalaman. Bukan dengan bom bunuh diri yang pengecut di keramaian.
MotoGP Mandalika adalah ujian terbaik untuk filosofi ini. Ribuan wisatawan asing — bule bertato, perempuan berbikini di Pantai Kuta, turis yang minum bir di kafe — datang ke tanah yang sangat Islami. Jika logika radikal dipakai, ini adalah “ancaman”. Tapi logika Lombok berkata lain: Tamu adalah raja. Indik anak jari, oh… — tamu harus dimuliakan.
Karena itu, tidak heran jika selama MotoGP 2022, 2023, 2024, dan 2025, tidak ada satu pun insiden intoleransi yang tercatat di Mandalika. Warga justru membuka rumahnya menjadi homestay, menjual es kelapa dengan senyum, dan menjadi marshal sukarela. Mereka menjaga MotoGP bukan karena diperintah polisi, tapi karena tamu adalah kehormatan. Inilah kontraradikalisme yang paling otentik.
GENDANG BELEQ LEBIH KERAS DARI PROPAGANDA
Radikalisme hari ini bergerak lewat media sosial. Narasi kebencian dikemas dengan ayat, dengan potongan ceramah yang provokatif. Tapi di Lombok, narasi itu harus bersaing dengan suara yang jauh lebih keras dan lebih tua: Gendang Beleq.
Gendang Beleq bukan sekadar musik. Ia adalah penanda komunitas. Ketika Gendang Beleq ditabuh, seluruh kampung berkumpul. Anak muda, orang tua, perempuan, laki-laki. Ia adalah medium komunikasi yang tidak bisa dikalahkan oleh algoritma TikTok.
Begitu pula tradisi * Bau Nyale* — mencari cacing laut di Pantai Seger. Ribuan warga turun ke laut bersama, tanpa memandang suku dan agama. Legenda Putri Mandalika yang mengorbankan diri untuk perdamaian kampung-kampung yang bertikai justru menjadi antitesis sempurna dari ideologi terorisme yang mengorbankan orang lain demi kekuasaan.
Putri Mandalika mengajarkan pengorbanan untuk kedamaian. Terorisme mengajarkan pengorbanan orang lain untuk kebencian. Dua nilai yang bertolak belakang 180 derajat.
MANDALIKA ADALAH PANGGUNG BUDAYA, BUKAN PANGGUNG PROVOKASI
Maka menjelang kualifikasi MotoGP 2026 besok, kita harus mengubah cara pandang. Jangan hanya bertanya: berapa ribu polisi yang menjaga Mandalika? Tapi bertanyalah: berapa ribu Berugak yang masih aktif di Lombok Tengah?
Karena di Berugak itulah deteksi dini sesungguhnya terjadi. Ketika ada anak muda yang mulai mengasingkan diri, tidak mau Begibung, tidak mau menabuh Gendang Beleq, dan mulai bicara dengan bahasa kebencian yang tidak dikenal adat, maka ibu-ibu di dapur, tokoh adat, dan Tuan Guru di masjid akan langsung tahu ada yang tidak beres.
Polda NTB dengan Operasi Mandalika Rinjani 2026 sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik: melakukan survei jalur escape, simulasi penanganan bom, dan pengamanan di Poto Tano.
Tapi tugas kita semua — jurnalis, tokoh agama, pemuda — adalah memastikan panggung budaya ini tetap menyala lebih terang dari panggung provokasi.
Deru MotoGP di Mandalika hanya akan berlangsung tiga hari. Tapi Gendang Beleq di Lombok sudah bertalu selama ratusan tahun. Dan selama gendang itu masih ditabuh, selama Berugak masih menjadi tempat musyawarah, dan selama Begibung masih menjadi cara orang Lombok makan bersama, maka selama itu pula ideologi radikal akan selalu menjadi tamu asing yang tidak pernah diundang — dan tidak pernah diterima — di Pulau Seribu Masjid ini.
MotoGP boleh menjadi kebanggaan Indonesia di mata dunia. Tapi budaya Lombok adalah benteng yang membuat kebanggaan itu tetap aman.
































































