JEPARA – Hari Santri di Jepara tahun ini tidak dirayakan hanya di dalam pesantren. Ia tumpah ke jalan, dirayakan lewat karnaval, dan diikuti oleh mereka yang berbeda keyakinan sekalipun.
Dalam Gebyar Hari Santri Nasional 2026, Kamis (22/10/2026), sekitar 70 peserta dari berbagai kategori meramaikan Karnaval Hari Santri. Mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah Negeri (MAN), hingga kategori umum, semuanya berbaur menjadi satu pawai kebersamaan.
Yang membuat karnaval ini istimewa bukan sekadar jumlah pesertanya. Kehadiran peserta lintas agama menjadi bukti bahwa peringatan Hari Santri telah melampaui sekat keagamaan. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk ikut merayakan, berkreasi, dan berjalan bersama.
Karnaval dihadiri Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar yang mewakili Bupati Witiarso Utomo. Turut hadir Kepala Kejaksaan Negeri Jepara, Dandim 0719/Jepara, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jepara, serta sejumlah ulama.
Keterlibatan pemerintah, aparat, tokoh agama, lembaga pendidikan, dan masyarakat ini menunjukkan satu hal: Hari Santri di Jepara bukan milik satu kelompok, tapi milik bersama.
Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah Keisha, siswi MAN 1 Jepara. Ia mengaku bangga bisa mewakili sekolahnya dalam karnaval tersebut.
“Saya mewakili MAN 1 Jepara dalam ajang Karnaval Hari Santri ini. Saya berharap semoga di tahun depan bisa lebih meriah lagi,” ujarnya dengan antusias.
Bagi pelajar seperti Keisha, karnaval bukan hanya ajang unjuk kreativitas. Ia adalah ruang perjumpaan — tempat mereka berinteraksi dengan peserta dari latar belakang yang berbeda, sekaligus mengenalkan tradisi kesantrian kepada masyarakat luas.
Pesan yang muncul dari karnaval ini sederhana tapi dalam: ketika masyarakat diberi ruang untuk terlibat dalam kegiatan bersama, perbedaan justru menjadi kekayaan sosial, bukan alasan untuk menciptakan jarak.
Karnaval ini merupakan bagian dari rangkaian Gebyar Hari Santri Nasional 2026 di Jepara, yang juga berkaitan dengan peringatan Hari Amal Bakti Kementerian Agama, Hari Bakti Dokter Indonesia ke-118, dan HUT ke-81 TNI.
Melalui kegiatan ini, semangat persaudaraan, gotong royong, dan penghormatan terhadap perbedaan diharapkan semakin kuat, terutama di kalangan generasi muda.
Peringatan Hari Santri pun diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Momentum ini bisa menjadi cara untuk terus menumbuhkan moderasi beragama, memperluas ruang interaksi lintas kelompok, dan memperkuat komitmen bersama menjaga persatuan di Kabupaten Jepara.
Di Kota Ukir, Hari Santri tahun ini akhirnya dibuktikan dengan cara yang paling mudah dipahami semua orang: berjalan bersama di jalan yang sama.


























































