Jeddah – Pandemi Covid-19 telah menyita energi hampir seluruh umat manusia di seluruh dunia. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberantasn virus yang berasal dari Wuhan, China. Berbagai vaksin pun telah diciptakan, tapi penyebaran virus Corona masih sulit dikendalikan.
Kini sebuah penelitian baru tengah dilakukan seorang ilmuwan muslim asal Uni Emirat Arab (UEA). Ia mempelopori penelitian tentang kekebalan unta terhadap virus Covid-19. Penelitian ini dipercaya dapat memberikan jawaban penting tentang cara menangani pandemi global dan merawat pasien Covid-19.
Dilansir dari Al Arabiya via laman Republika.co.id, ahli mikrobiologi veteriner di Dubai sekaligus Kepala Laboratorium Penelitian Hewan Pusat UEA Ulrich Wernery dan timnya menyuntikkan sampel mati virus Covid-19 ke unta. Percobaan ini untuk memeriksa antibodi yang diproduksi oleh hewan gurun tersebut.
Sebelumnya unta diketahui sebagai penyebab sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS), virus corona pendahulu Covid-19. MERS menyebabkan penyakit pernapasan akut, masalah pencernaan, gagal ginjal hingga kematian. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa unta sebenarnya kebal, bahkan terhadap virus corona baru.
Kekebalan ini terjadi karena unta tidak memiliki reseptor virus, sebuah sel inang yang dikenali oleh virus sebagai pintu gerbang untuk masuk ke dalam sel. Sementara hal ini dimiliki manusia dan hewan lain yang membuat mereka rentan terhadap Covid-19.
“MERS-CoV, [unta] bisa berlabuh tapi tidak sakit. Dengan Covid-19, virus tidak dapat menempel pada sel mukosa unta di saluran pernapasan karena reseptornya tidak ada atau tumpul,” ujarnya.
“Ini membuat semuanya sangat menarik. Selain manusia, cerpelai dan kucing kecil dan besar, seperti harimau dan singa bisa tertular Covid-19. Dan dapat menularkan virus ke kucing lain atau ke manusia dan sebaliknya. Tapi tidak terjadi pada unta,” tambahnya.

































































