Yogyakarta – Diantara kesuksesan hijrah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW adalah menghilangkan sekat tribalisme/kesukuan yang kerap memicu konflik, diganti dengan persaudaraan berdasarkan keimanan. Intinya semangat hijrah itu adalah persatuan.
“Hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah bukan hanya tentang perpindahan tempat dari satu titik ke titik lain. Melainkan terdapat aspek perubahan atau perpindahan sikap dan perilaku dari yang buruk ke arah yang lebih baik, terlebih dalam relasi sosial,” ujar mantan Ketua Umum Muhammadiyah Prof. Dr. KH. Ahmad Syafi’I Ma’arif dikutip dari laman muhammadiyah.or.id, Senin (16/8/2021).
Pernyataan itu disampaikan Buya Syafi’i dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah pada (13/8) yang disiarkan secara daring dengan tema Spirit Hijrah Mewujudkan Cita-cita Kemerdekaan.
“Hijrah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad secara konkrit juga sebagai usaha pemersatuan, karena di kawasan Jazirah Arab masih kental akan tribalisme yang kerap memicu perang antar suku. Semangat Hijrah secara berkelindan juga menghilangkan sekat tribalisme,” imbuhnya.
Ia melanjutkan bahwa kemapanan relasi sosial yang diciptakan Rasulullah tersebut mendatangkan kedamaian ke Tanah Arab. Namun yang patut disayangkan, pasca kematian Nabi Muhammad semangat tribalisme tersebut kembali lagi di kalangan umat Islam.
“The golden age of Islam, atau tahun-tahun emas Islam itu kita bangga sekali, itu betul. Dalam pimpinan Abbasiyah itu, sampai lima abad lamanya, sampai abad kesebelas. Akan tetapi dari sisi persaudaraannya tidak ada itu,” ungkap Buya.
Menurutnya, membaca sejarah Umat Islam tentang kepemimpinan Daulah Abbasiyah, ia menyarankan untuk membaca karya-karya dari Ilmuwan Arab/Timur Tengah, tidak dari orientalis (Barat).
Sebab sumber-sumber kredibel dari ilmuwan Arab juga menyebutkan bahwa, di masa kekuasaan Khalifah Bani Abbasiyah terjadi pengusiran saudara seiman yang mendukung penguasa sebelumnya, Khalifah Bani Umayyah.
Sementara dalam konteks keindonesiaan, Buya Syafi’I tidak berharap kejadian itu turut dirasakan oleh Negara-Bangsa Indonesia. Mengambil contoh persahabatan Soekarno dengan Mohammad Hatta, Buya Syafi’I menyebut bahwa, perbedaan politik itu sah saja.
“Walaupun perbedaan tajam dalam menilai politik, tentang demokrasi terpimpin, tentang PKI, tentang demokrasi berbeda memang. Tapi hubungan pribadinya tidak rusak,” urai Buya Syafi’I.
Buya Syafi’i berharap, semangat hijrah untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Perayaan tahun baru hijrah bukan hanya diperingati sebagai sejarah perpindahan Nabi Muhammad dari Mekah menuju Yatsrib/Madinah.

































































