Denpasar –Bali tengah menjadi sorotan dunia. Di Pulau Dewata tersebut saat ini tengah berlangsung Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Hampir seluruh 20 kepala negara negara-negara maju dunia datang untuk membicarakan tiga isu prioritas yaitu arsitektur kesehatan global, transformasi digital, dan transisi energi berkelanjutan.
Namun di sisi lain, pelaksanaan KTT G20, ada hal lain yang menjadi Bali sangat istimewa, disamping keindahan alamnya. Hal lain itu adalah potret harmonisasi kehidupan umat beragama, khususnya Hindu dan Islam, di pulau berjuluk 1000 Pura itu. Bahkan Bali juga baru saja sukses menghelat gelaran Religin 20 (R20) yaitu pertemuan tokoh-tokoh multi agama dari seluruh dunia yang digagas Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), 2-3 November lalu.
Meski mayoritas masyarakat Bali beragama Hindu, namun keberadaan agama lain seperti Islam, Kristen, Katolik, Budha, dan lain-lain, berjalan damai dan harmoni. Khusus dengan umat Islam, hubungan Hindu-Islam sudah lama terjalin. Hingga saat ini hubungan keagamaan dan kekerabatan itu terjalin apik dilandasi rasa saling toleransi yang indah.
“Di sini, kami tetap menamai anak-anak kami dengan Wayan, Ketut, Putu, Made, Komang, dan sebagainya, tapi mereka bersekolah di madrasah atau pesantren,” ucap warga Muslim Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, Abdul Manaf dikutip dari Antara, Senin (14/11/2022)
Kolaborasi nama itu biasanya umat Muslim tetap menyematkan nama Islam di belakang nama dengan tradisi Bali. Wayan Wahab, atau Made Mustofa.
Abdul Manaf adalah seorang tokoh Muslim Pegayaman yang pernah menjadi santri di Pesantren An-Nuqoyyah, Guluk-Guluk, Prenduan, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Ia mengaku Muslim Pagayaman hingga kini masih melestarikan budaya Hindu dalam kehidupan sehari-hari.
“Dalam acara-acara keagamaan, seperti Burdah, Rotibul, Rudat, Ijiban Lombok (Diba’), Barzanji, atau acara keagamaan lainnya, umat Islam di sini juga melestarikan tradisi berpakaian khas Bali, bukan busana Muslim, tapi udeng, kamen, dan lainnya, meski dipakai dalam acara keagamaan Islam,” tuturnya.
Sebenarnya, Muslim Pegayaman yang tinggal di desa yang diapit hunian umat Hindu, baik jalan masuk ke desa maupun saat mau keluar dari desaitu, saat ini memiliki jumlah lebih banyak daripada umat Hindu yang tinggal di kawasan hutan gatep (hutan gayam) itu.
“Ada 80-an persen dari 1.652 KK warga Desa Pegayaman itu yang memeluk Islam, namun kami sudah terbiasa hidup bersama dengan saling menghormati, karena itu budaya Hindu tetap dijaga, tapi substansi-nya sudah ajaran Islam,” kilahnya.
Kebiasaan lain adalah tradisi saling antar makanan kepada tetangga di Desa Pegayaman yang disebut sebagai “Desa Muslim” tertua di Bali (1600-an Masehi/masa Kerajaan Buleleng) itu.
Saat hari raya Galungan dan Kuningan, umat Hindu pun turut memberikan makanan kepada tetangganya yang Muslim, tentunya makanan halal. Sebaliknya, saat Lebaran dan Hari Raya Qurban, Muslim pun melakukan tradisi “ngejot” (memberi makanan kepada tetangga sekitar rumah) atau”ater-ater” (Bahasa Jawa).
“Kami memasukkan nilai-nilai Islam dalam ‘ngejot’ yakni sedekah. Jadi, kami menghormati budaya Hindu, tapi kami mengemasnya dengan amalan Islam, seperti berdoa, bersedekah, dan sebagainya,” ujarnya.
Selain mengakomodasi budaya Hindu yang diberi nilai-nilai Islam, Muslim Pegayaman juga sangat menghormati kegiatan ritual umat Hindu, sepertiHari Suci Nyepi dengan tidak keluar rumah. Bahkan, menjelang Nyepi pun, umat Islam tidak segan membantu tetangganya saat membuat dan mengarak “ogoh-ogoh”.
Tidak hanya itu, masjid atau mushola yang biasanya mengumandangkan azan akan tetap ada azan, tapi tanpa pengeras suara saat Nyepi, sehinggasuasana Nyepi tetap berlangsung hening sesuai ritualitas Hindu. Muslim di sini juga menahan diri untuk tidak keluar rumah saat ritual Nyepi, meski tetap beraktivitas.
Dalam masalah pendidikan, Muslim Pegayaman cukup memberi perhatian pendidikan dengan nuansa keagamaan bagi anak-anak mereka,mulai dari tingkat ibtidaiyah (MI) hingga tsanawiyah (SMP) dan aliyah (SMA), meski ada percakapan dengan Bahasa Bali.
“Tidak sedikit pula, anak-anak sini yang mondok keluar Bali, seperti ke Lombok atau ke Jawa Timur. Saya sendiri mondok ke Madura. Mondok itu sangat penting untuk kehidupan bermasyarakat, karena pesantren mengajarkan ilmu dan karakter,” katanya.
Menurutnya karakter dari pesantren itu pula yang membuatnya bisa menjalankan agama dengan tetap menghargai umat yang beragama lain.
“Sikap toleran itu justru membuat pemeluk agama lain juga menaruh hormat kepada kami. Di sini memang mayoritas Muslim, tapi tidak ada masalah dengan umat Hindu. Istilah para ulama adalah Islam Rahmatan lil Alamin,” urainya.
Toleransi yang diungkapkan Abdul Manaf di Desa Pegayaman, Buleleng itu juga ada di di Desa Tegallingga,Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng; atau di Desa Keramas, Kabupaten Gianyar; dan di Desa Candikuning, Bedugul atau Banjar Taman MekarSari, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan.
“Di Banjar Taman Mekar Sari, warganya bukan hanya Hindu, tapi ada juga Islam, Katolik dan Protestan, tapi setiap hari raya pada masing-masing agama itu, warga selalu silaturahmi (berkunjung) dan ‘ngejot’ (berbagi makanan). Itu rutin, seperti Ramadhan saat menjelang hari raya Idul Fitri 2020yang lalu, tetangga saya yang Islam juga datang ke rumah (silaturahim) dan membagikan makanan kepada keluarga saya (ngejot),” kata warga setempat, Nyoman Hendra.
Toleransi serupa juga ada di “desa Muslim” lain yang menyebar di “timur” Pulau Dewata, yakni Desa Sindu, Kecamatan Sidemen (Kabupaten Karangasem); atau di “barat” Bali yakni Desa Lolo’an Timur dan Desa Tuwed, Negara (Kabupaten Jembrana), serta di “tengah” Bali (Kota Denpasar).

































































