Jakarta — Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menilai pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tetap berjalan selama masa libur sekolah memiliki urgensi tinggi untuk menjaga kesinambungan pemenuhan gizi anak.
Menurut Hetifah, masa libur sekolah tidak serta-merta menjamin kebutuhan gizi anak terpenuhi secara optimal di rumah, terutama bagi keluarga rentan.
“Urgensinya terletak pada upaya menjaga kesinambungan pemenuhan gizi anak. Libur sekolah tidak otomatis berarti kebutuhan gizi anak terpenuhi dengan baik di rumah,” kata Hetifah di Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan, pada sebagian keluarga, libur sekolah justru berpotensi menurunkan kualitas asupan gizi anak. Oleh karena itu, Hetifah menyatakan dukungannya agar program MBG tetap berjalan meski kegiatan belajar mengajar sedang berhenti sementara.
Meski demikian, Hetifah memberikan sejumlah catatan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) agar pelaksanaan MBG selama masa liburan dapat berjalan efektif dan tepat sasaran. Salah satunya adalah penyesuaian jenis menu yang disalurkan.
“Selama masa libur, MBG disalurkan dalam bentuk menu kering atau tahan simpan seperti abon, roti, atau bolu sehingga lebih aman dan praktis,” ujarnya.
Selain itu, Hetifah mendorong penguatan kerja sama dengan pelaku UMKM lokal. Menurutnya, langkah ini penting untuk menjaga ketersediaan suplai bahan MBG sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Catatan berikutnya adalah perlunya koordinasi yang rapi antara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pihak sekolah, peserta didik, dan wali murid.
“Koordinasi harus dilakukan dengan baik agar data penerima manfaat akurat dan distribusi berjalan tertib serta tepat sasaran,” kata Hetifah.
Sebelumnya, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Nanik Sudaryati Deyang menegaskan bahwa pihaknya tidak memaksa siswa untuk mengambil MBG selama masa libur sekolah. Ia juga membantah anggapan bahwa pemberian MBG saat liburan dilakukan untuk menghabiskan anggaran.
“Anak-anak tidak dipaksa untuk datang ke sekolah. MBG bisa diambil oleh ibu, ayah, atau saudaranya. Jika sekolah atau wali murid tidak mau menerima, itu juga tidak apa-apa dan tidak dipaksa,” kata Nanik.
BGN, lanjut Nanik, menyadari bahwa perbaikan gizi membutuhkan konsistensi, namun tetap memahami kondisi anak-anak yang sedang memasuki masa libur sekolah. Oleh karena itu, SPPG menawarkan kepada sekolah penerima manfaat untuk mengajukan permohonan jika ingin tetap menerima MBG selama liburan.
“Hidangan MBG akan diantarkan oleh SPPG sesuai permintaan sekolah, dalam bentuk makanan kering,” ujarnya.
Nanik juga meluruskan tudingan sejumlah pihak yang menyebut penyaluran MBG saat liburan bertujuan menghabiskan anggaran. Ia menegaskan justru terjadi efisiensi dalam pelaksanaan program tersebut.
“Justru sebaliknya, kami menghemat anggaran. Tahun 2025 anggaran MBG sebesar Rp 71 triliun dengan target 6 juta penerima manfaat, namun ternyata kami bisa memberi manfaat kepada sekitar 50 juta anak Indonesia dan kelompok ibu hamil, ibu menyusui, serta balita,” paparnya. (Ant)

































































