Serang – Suasana pagi di SKh Negeri 01 Kota Serang kerap diwarnai teriakan penuh semangat. Setiap sekitar pukul 09.00 WIB, anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah itu berdiri di dekat pagar, menanti kedatangan mobil pengantar Makan Bergizi Gratis (MBG).
Seruan “MBG! MBG!” terdengar bersahutan. Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi pihak sekolah, momen tersebut menjadi tanda antusiasme siswa terhadap program pemenuhan gizi yang telah berjalan sekitar satu tahun terakhir.
Dikutip dari jpnn.com, sekolah yang berlokasi di Jalan Bhayangkara, Kelurahan Sumur Pecung, Kecamatan Serang itu menaungi 272 siswa dari jenjang TK hingga SMA. Peserta didik terdiri atas lima kategori ketunaan, yakni tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, dan autis.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Agus Helfi Rahman, mengatakan kedatangan mobil pengantar MBG selalu dinanti. Bahkan, jika distribusi sedikit terlambat, anak-anak akan terus memanggil dengan nada riang.
“Kadang petugas datang pakai костum karakter seperti Spiderman. Anak-anak jadi makin senang,” ujar Agus saat ditemui di sela kegiatan belajar, Jumat (13/2).
Menurut Agus, program MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga membentuk kebiasaan makan yang lebih teratur. Pihak sekolah membimbing siswa untuk mengonsumsi buah lebih dulu, kemudian menu utama, dan ditutup dengan susu.
Meski demikian, ia menilai perlu ada perhatian khusus terhadap komposisi menu, terutama bagi siswa autis. Sebab, sebagian anak dengan kondisi tersebut memiliki pola diet tertentu dan sensitif terhadap bahan makanan seperti tepung terigu, gula berlebih, maupun pewarna makanan.
“Untuk anak autis, sebaiknya tidak disamakan sepenuhnya dengan siswa reguler. Kami berharap ada penyesuaian,” kata Agus yang telah mengajar lebih dari satu dekade di sekolah itu.
Sekitar sembilan bulan lalu, sempat muncul laporan dari orang tua terkait susu yang diduga basi. Pihak sekolah langsung berkoordinasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk melakukan penggantian. Agus menyebut kejadian tersebut menjadi evaluasi penting agar pengawasan kualitas semakin diperketat.
Kini, distribusi susu yang dilakukan dua kali sepekan justru mendorong kebiasaan baru di kalangan siswa. Mereka semakin gemar minum susu sebagai bagian dari rutinitas harian di sekolah.
Salah satu siswa, Saidah Patimah Azahra (16), mengaku menyukai beberapa menu MBG, terutama ayam goreng, buah kelengkeng, dan susu. Melalui bahasa isyarat yang diterjemahkan gurunya, ia menyampaikan rasa senangnya mengikuti program tersebut.
Bagi pihak sekolah, cerita sederhana seperti yang dialami Saidah menjadi gambaran dampak nyata program di tingkat akar rumput. Meski masih terdapat sejumlah catatan evaluasi, MBG dinilai telah memberi kontribusi positif terhadap pola makan dan semangat belajar siswa.
Di halaman sekolah itu, setiap teriakan kecil menyambut kedatangan ompreng bukan sekadar ekspresi kegembiraan. Ia menjadi simbol harapan bahwa perhatian terhadap gizi anak, termasuk anak berkebutuhan khusus, terus diupayakan dan disempurnakan.

































































