Serang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Banjarsari 1, Cipocok Jaya, Kota Serang, tak hanya menghadirkan ribuan porsi makanan bagi siswa setiap pagi. Di balik aktivitas dapur yang dimulai sejak tengah malam, program ini turut menggerakkan roda ekonomi pelaku UMKM dan pedagang pasar lokal.
Dapur seluas sekitar 600 meter persegi yang dipimpin Sri Hartini itu kini menjadi simpul penting dalam rantai pasok pangan lokal. Sejak resmi beroperasi pada 17 Februari 2025, dapur ini secara konsisten mendistribusikan makanan ke ribuan penerima manfaat—mulai dari siswa sekolah hingga ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Namun dampaknya tidak berhenti di penerima manfaat. Di bagian logistik, Wilnanda selaku Ketua Logistik SPPG Banjarsari 1 menjadi penghubung antara dapur dan pemasok bahan baku. Ia merasakan langsung peningkatan produksi pada usaha rotinya setelah bergabung dalam ekosistem MBG.
“UMKM roti yang tadinya produksinya sedikit, sekarang dengan adanya MBG produksinya jadi makin banyak,” ujarnya.
Permintaan bahan baku seperti beras, sayuran, telur, hingga buah-buahan meningkat seiring bertambahnya jumlah penerima manfaat yang sempat mencapai hampir 4.000 orang. Pasokan tersebut diperoleh dari pemasok lokal di kawasan Kota Serang, sehingga perputaran ekonomi tetap berada di wilayah setempat.
Model ini menciptakan efek domino: dapur membutuhkan bahan baku dalam jumlah besar dan rutin, pedagang pasar memperoleh kepastian pembelian, dan UMKM memiliki pasar yang stabil. Program MBG secara tidak langsung membentuk ekosistem ekonomi mikro berbasis komunitas.
Sri Hartini, yang memulai dapur ini saat memasuki masa purna bakti pada 2024, menyebut bahwa sejak awal ia ingin program tersebut tidak hanya berdampak pada aspek gizi, tetapi juga pemberdayaan masyarakat sekitar.
Kini dapur Banjarsari 1 melibatkan 50 orang, mayoritas relawan, serta tenaga ahli gizi dan administrasi. Seluruh proses dilakukan dengan standar higienitas ketat dan jadwal produksi terstruktur, dimulai pukul 00.00 WIB hingga distribusi pukul 07.00 WIB.
Kepala SPPG Banjarsari 1, Iwan Setiawan, memastikan seluruh relawan telah mengikuti pelatihan penjamah makanan dari Badan Gizi Nasional (BGN) dan BLK, sehingga kualitas makanan tetap terjaga di tengah tingginya volume produksi.
Di Banjarsari, MBG bukan sekadar program distribusi makanan. Ia berkembang menjadi penggerak rantai pasok lokal—menghubungkan dapur, petani, pedagang, dan UMKM dalam satu mata rantai ekonomi yang saling menguatkan.

































































