Jakarta – Di tengah modernisasi kota, satu tradisi lama masyarakat Betawi perlahan kembali dihidupkan: andilan kebo. Tradisi yang biasanya digelar menjelang Idulfitri ini bukan sekadar soal konsumsi, melainkan cerminan kuat gotong royong, ketahanan pangan, dan toleransi lintas budaya.
Di sejumlah wilayah pinggiran Jakarta seperti Cengkareng, Rawa Buaya, hingga Kembangan, praktik ini masih dijalankan meski dalam skala lebih sederhana. Tradisi ini dimulai dari kesepakatan keluarga besar untuk patungan dana, yang kemudian digunakan membeli kerbau sebagai persiapan kebutuhan Lebaran.
Tokoh pemuda Betawi, M. Ichwan Ridwan atau yang akrab disapa Boim, menyebut andilan kebo sejatinya adalah bentuk “tabungan kolektif” masyarakat Betawi.
“Ini cara orang Betawi memastikan kebutuhan Lebaran terpenuhi. Ada yang iuran mingguan, bulanan, bahkan harian,” ujarnya.
Kerbau yang dibeli kemudian disembelih menjelang hari raya. Dagingnya dibagikan kepada anggota keluarga yang ikut patungan, baik untuk konsumsi sendiri maupun dijual kembali guna menambah kebutuhan Lebaran.
Namun di balik praktik tersebut, tersimpan makna yang lebih dalam. Pemilihan kerbau bukan tanpa alasan. Sejak masa lalu, masyarakat Betawi hidup berdampingan dengan pemeluk Hindu yang tidak mengonsumsi sapi. Sebagai bentuk penghormatan, kerbau dipilih agar semua pihak tetap bisa berbagi tanpa melanggar keyakinan.
“Dari dulu sudah ada nilai toleransi. Kerbau jadi simbol kebersamaan,” jelas Boim.
Selain itu, tradisi ini juga sarat nilai musyawarah dan kebersamaan. Mulai dari menentukan jumlah iuran, waktu pembelian, hingga pembagian hasil, semuanya diputuskan bersama. Proses ini mempererat hubungan antaranggota keluarga sekaligus membangun solidaritas sosial.
Ketua Dewan Adat Betawi, Fauzi Bowo, menilai andilan kebo sebagai bentuk nyata kesalehan sosial masyarakat Betawi. Tradisi ini memungkinkan warga yang kurang mampu tetap merasakan kebahagiaan Idulfitri.
“Dalam setiap rezeki, ada hak orang lain. Ini yang dijalankan dalam tradisi Betawi,” ujarnya.
Kini, tradisi tersebut mulai digelorakan kembali, salah satunya oleh Majelis Kaum Betawi, bahkan mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjelang peringatan 500 tahun kota pada 2027.
Gubernur Pramono Anung menilai andilan kebo bukan sekadar tradisi, tetapi juga solusi sosial yang relevan hingga hari ini.
“Di dalamnya ada nilai gotong royong, berbagi, dan kebersamaan yang harus terus dijaga,” katanya.
Upaya menghidupkan kembali tradisi ini juga diharapkan lebih terorganisir ke depan, sehingga partisipasi masyarakat semakin luas dan manfaatnya lebih terasa.
Di tengah kehidupan kota yang semakin individualistis, andilan kebo hadir sebagai pengingat bahwa kebersamaan, kepedulian, dan toleransi pernah—dan masih bisa—menjadi fondasi kuat kehidupan masyarakat.

































































