Sekadau – Suasana Lebaran di Kabupaten Sekadau belum benar-benar usai meski hari raya telah berlalu. Di tengah masyarakat Melayu, ada satu tradisi yang justru menjadi penutup rangkaian perayaan sekaligus penguat ikatan sosial, yakni beroah.
Digelar selepas Idulfitri, beroah bukan sekadar doa bersama. Tradisi ini menjadi ruang berkumpul warga, mempertemukan keluarga, tetangga, dan kerabat dalam suasana yang hangat dan penuh kekhusyukan.
Tuan rumah biasanya mengundang masyarakat sekitar melalui kebiasaan “panggil”, sebuah cara sederhana namun sarat makna kebersamaan. Undangan ini kemudian direspons dengan kehadiran warga yang duduk bersama, mengikuti rangkaian doa yang dipimpin tokoh agama setempat.
Di balik lantunan doa, tersimpan harapan akan keselamatan bagi yang masih hidup, serta kiriman doa bagi mereka yang telah berpulang. Nilai spiritual berpadu erat dengan rasa kebersamaan yang sulit tergantikan oleh aktivitas modern.
Kehangatan semakin terasa ketika acara berlanjut ke tradisi saprahan. Tanpa sekat, para tamu duduk berkelompok di lantai dan menikmati hidangan bersama. Tidak ada jarak sosial, semua melebur dalam suasana kekeluargaan.
Waktu pelaksanaannya pun fleksibel, biasanya selepas salat wajib seperti Zuhur, Ashar, atau Magrib, menyesuaikan kesiapan tuan rumah. Namun yang tak pernah berubah adalah esensi kebersamaan yang selalu hadir di setiap pelaksanaannya.
Bagi masyarakat Melayu Sekadau, beroah adalah lebih dari sekadar warisan budaya. Ia adalah cara menjaga hubungan antarmanusia sekaligus pengingat akan akar tradisi yang telah diwariskan lintas generasi.
Di tengah perubahan zaman, beroah tetap bertahan—menjadi bukti bahwa nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap leluhur masih hidup dan terus dijaga hingga hari ini.

































































