Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan selama satu tahun tiga bulan menunjukkan dampak positif terhadap kondisi kesehatan dan motivasi belajar siswa. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat kehadiran siswa meningkat seiring membaiknya kondisi fisik dan semangat belajar.
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, serta Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menyebut program tersebut membuat siswa lebih jarang sakit dan lebih antusias mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
“Jarang sekali anak yang sakit. Lebih semangat masuk sekolah,” ujarnya dalam konferensi pers 1 Tahun Perjalanan Makan Bergizi Gratis, Jumat (17/4/2026).
Ia menjelaskan temuan tersebut diperoleh dari studi bersama LabSosio Universitas Indonesia. Hasil kajian menunjukkan adanya peningkatan motivasi siswa yang juga dipengaruhi kebiasaan makan bersama di sekolah.
“Ada kebanggaan atau rasa kebersamaan ketika makan bersama di sekolah. Itu menjadi suatu dorongan mereka untuk lebih semangat untuk bersekolah,” ungkapnya.
Program MBG juga dinilai menjadi layanan yang paling dinantikan siswa, terutama bagi kelompok dengan latar belakang ekonomi rendah. Selain berdampak pada kehadiran, program ini turut meningkatkan pemahaman siswa terkait pola makan sehat.
Gogot menyampaikan hasil quick assessment pada 2025 menunjukkan anak-anak kini lebih memahami konsep gizi seimbang. Edukasi tersebut diberikan langsung oleh guru yang ditugaskan mendampingi pelaksanaan MBG di sekolah.
“Anak-anak sekarang lebih paham terkait dengan edukasi gizi,” katanya.
Ia menjelaskan pembelajaran gizi tidak hanya diberikan secara teori, tetapi juga melalui praktik langsung dari menu harian MBG. Siswa mulai mengenali komposisi makanan sehat dan memahami pentingnya asupan seimbang.
“Nah dari sisi pengetahuan gizi, anak-anak sekarang sangat paham. Pada saat mereka makan setiap hari, melihat menu-menu yang memang idealnya seperti itu, mereka mulai bergeser paradigmanya,” jelasnya.
Bahkan, implementasi MBG juga dimanfaatkan sebagai media pembelajaran lintas mata pelajaran. Gogot mencontohkan guru matematika menggunakan menu makanan sebagai bahan latihan berhitung, termasuk menghitung kandungan gizi dari setiap paket makanan.
Pendekatan tersebut membuat program MBG tidak hanya berdampak pada kesehatan siswa, tetapi juga memperkuat pembelajaran kontekstual yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

































































