Hulnani – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan dampak nyata di tingkat desa. Di Desa Hulnani, Kecamatan Alor Barat, Kabupaten Alor, NTT, peran petani lokal menjadi kunci dalam memastikan ketersediaan bahan pangan bergizi bagi anak-anak sekolah sekaligus menggerakkan ekonomi setempat.
Kelompok Tani Baru Mekar yang dipimpin Amir Fama tampil sebagai salah satu penggerak utama. Mereka tidak hanya menanam untuk kebutuhan pasar umum, tetapi secara khusus menyuplai bahan pangan untuk mendukung program MBG.
Berbagai komoditas disiapkan secara terencana. Tercatat ada puluhan pohon pepaya California, ratusan tanaman cabai, tomat serfo, hingga terung yang menjadi bagian dari rantai pasok pangan. Di sektor peternakan, kelompok ini juga mengelola puluhan ayam petelur yang siap produksi serta ayam kampung sebagai sumber protein tambahan.
Amir Fama menegaskan bahwa keterlibatan kelompok tani bukan sekadar mengikuti program pemerintah. “Kami ingin anak-anak di desa mendapatkan asupan gizi yang baik setiap hari. Ini investasi untuk masa depan mereka,” ujarnya.
Ia juga mengakui adanya dampak ekonomi yang langsung dirasakan petani. “Selain membantu program MBG, kami juga merasakan dampak langsungnya. Hasil panen lebih mudah terserap dan pendapatan petani meningkat,” katanya.
Dari sisi nutrisi, suplai bahan pangan yang disiapkan cukup beragam. Telur menjadi sumber protein hewani utama, sementara buah seperti pepaya California dipilih karena kandungan vitamin dan seratnya yang tinggi. Sayuran lokal seperti kangkung, tomat, dan pare turut melengkapi kebutuhan gizi agar menu tetap seimbang.
Penyuluh Pertanian Lapangan, Ilham Molbang, menilai kolaborasi ini sebagai contoh sinergi yang efektif. “Program ini sangat baik karena menghubungkan kebutuhan gizi anak sekolah dengan potensi pertanian lokal. Semua saling menguatkan,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Kepala BPP Kecamatan Alor Barat Laut, Petrus Payong. Menurutnya, program ini memberikan solusi ganda yang jarang terjadi dalam kebijakan publik. “Kita melihat dampaknya nyata. Petani semakin semangat karena ada kepastian pasar, sementara anak-anak mendapatkan makanan yang bergizi,” katanya.
Kehadiran MBG di Hulnani menunjukkan bahwa program nasional dapat berjalan efektif jika ditopang partisipasi aktif masyarakat lokal. Hubungan antara petani dan kebutuhan gizi siswa menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan.
Dengan kolaborasi yang terus dijaga, Hulnani berpotensi menjadi contoh bagi desa lain dalam mengoptimalkan program MBG, tidak hanya sebagai intervensi gizi, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi berbasis komunitas.

































































