Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai memicu geliat investasi di sektor peternakan nasional. Meningkatnya kebutuhan bahan baku seperti susu, daging sapi, ayam, dan telur membuat para pelaku usaha ramai-ramai memperluas kandang hingga mendatangkan sapi untuk meningkatkan produksi.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengatakan program MBG menciptakan kepastian pasar baru yang membuat pelaku usaha peternakan semakin optimistis untuk berinvestasi dan memperbesar usaha mereka.
Menurutnya, kebutuhan bahan baku dalam jumlah besar untuk mendukung program MBG telah menjadi faktor pendorong utama tumbuhnya investasi di sektor peternakan.
“Yang membuat mereka semangat itu kan ada jaminan off-take guarantee-nya dari BGN. Sorry, saya ulangi, off-take guarantee-nya dari potensi market besarnya makan bergizi gratis,” ujar Sudaryono saat ditemui di Jakarta, Rabu (27/5/2026).
Sudaryono menjelaskan, sebelum program MBG berjalan, sektor susu nasional sempat mengalami persoalan kelebihan pasokan karena serapan pasar yang belum optimal. Namun kini kondisi mulai berubah seiring meningkatnya kebutuhan susu untuk program MBG.
“Sekarang justru kita kekurangan susu. Dulu sempat ada kondisi susu tidak terserap dengan baik, sekarang permintaannya meningkat,” katanya.
Kondisi tersebut, lanjut dia, mendorong banyak pihak mulai tertarik mengembangkan usaha peternakan sapi perah maupun sapi potong.
“Ini men-trigger banyak pihak untuk kemudian pelihara sapi susu, kemudian juga sapi daging juga sama,” ujar Sudaryono.
Tidak hanya sektor sapi, peningkatan permintaan juga terjadi pada sektor perunggasan. Program MBG disebut mulai memicu pembangunan kandang ayam baru dan ekspansi usaha peternakan telur di berbagai daerah.
“Ayam sama telur itu bahkan karena MBG orang sekarang lagi banyak bikin kandang ayam,” ujar Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) tersebut.
Menurut Sudaryono, besarnya kebutuhan pangan dalam program MBG menjadi peluang besar bagi dunia usaha untuk meningkatkan investasi di sektor pertanian dan peternakan nasional.
Karena itu, pemerintah mendorong keterlibatan lebih besar dari pihak swasta untuk meningkatkan populasi ternak, khususnya sapi, guna memenuhi kebutuhan susu dan daging dalam negeri.
Ia mengatakan pemerintah ingin peningkatan populasi sapi dilakukan melalui investasi swasta tanpa membebani anggaran negara secara langsung.
“Kuncinya satu, memang populasi sapinya mesti banyak. Nah, ini kita mendorong, tidak pakai APBN. Kita mendorong banyak pihak, terutama pihak swasta mendatangkan sapi ke Indonesia,” ujarnya.
Dengan meningkatnya populasi sapi dan kapasitas produksi peternakan nasional, pemerintah berharap kebutuhan daging dan susu dalam negeri dapat dipenuhi dari produksi lokal sehingga target swasembada pangan dapat tercapai.
Program MBG sendiri saat ini menjadi salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Program tersebut membutuhkan pasokan bahan pangan dalam jumlah besar setiap hari untuk memenuhi kebutuhan jutaan penerima manfaat di seluruh Indonesia.
Besarnya kebutuhan tersebut dinilai mulai menciptakan efek berantai terhadap berbagai sektor ekonomi, mulai dari pertanian, peternakan, distribusi pangan, hingga industri pengolahan makanan.
Pengamat menilai, apabila tata kelola program berjalan baik dan permintaan pasar tetap stabil, MBG berpotensi menjadi motor baru pertumbuhan sektor peternakan nasional sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan kerja di daerah.
Di sisi lain, pemerintah juga diingatkan untuk memastikan peningkatan produksi berjalan beriringan dengan pengawasan kualitas pangan, kesehatan hewan ternak, dan stabilitas harga agar manfaat ekonomi program dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

































































