JAKARTA – Pemerintah terus memperkuat ekosistem Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mendorong lahirnya generasi wirausaha baru di bidang pangan dan gizi atau nutripreneur. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat rantai pasok program, menciptakan lapangan kerja, sekaligus meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
Inisiatif tersebut diwujudkan melalui kerja sama antara Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan Persatuan Ahli Gizi Indonesia untuk mencetak pelaku usaha yang tidak hanya memahami aspek bisnis, tetapi juga memiliki kompetensi di bidang ilmu gizi.
Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, Riza Adha Damanik, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sumber daya manusia yang mampu menghadirkan manfaat kesehatan sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.
“Kami menyambut inisiatif Persagi untuk membangun kerja sama dalam kerangka mendorong lahirnya nutripreneur yang memiliki keahlian terkait gizi dan di sisi lain menjadi pengusaha yang berkontribusi terhadap ekonomi daerah,” ujar Riza.
Menurutnya, Kementerian UMKM akan memperkuat pengembangan nutripreneur melalui berbagai program, mulai dari inkubasi usaha, pendataan menggunakan platform SAPA UMKM, hingga pengembangan jejaring inkubator bersama Politeknik Kesehatan dan perguruan tinggi yang memiliki konsentrasi di bidang kesehatan.
Selain itu, calon pelaku usaha juga akan memperoleh akses pelatihan, pendampingan bisnis, serta dukungan pembiayaan melalui Program Kewirausahaan dan Penciptaan Lapangan Kerja (Prokersa).
Riza menilai model rantai pasok MBG yang telah diterapkan di Jawa Timur memperlihatkan bagaimana program tersebut mampu menciptakan efek ekonomi yang luas. Pelibatan petani, nelayan, peternak, pekebun, pedagang pasar, hingga UMKM dalam penyediaan bahan pangan dinilai tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat perputaran ekonomi lokal.
“Skema tersebut tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi daerah,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum DPP Persagi, Doddy Izwardy, menyatakan sinergi dengan Kementerian UMKM menjadi langkah strategis dalam mengintegrasikan ilmu gizi dengan kewirausahaan sehingga pembangunan gizi dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Di sisi lain, Hashim Djojohadikusumo menegaskan komitmen pemerintah untuk terus melanjutkan Program Makan Bergizi Gratis sebagai salah satu program prioritas nasional.
“Saya kira sudah bukan rahasia lagi bahwa pemerintah sudah bertekad untuk melanjutkan program MBG, tidak akan berhenti sampai nanti kita berhasil,” kata Hashim.
Ia menambahkan, keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh perluasan jangkauan penerima manfaat, tetapi juga bergantung pada tata kelola dan sistem pengawasan yang kuat agar pelaksanaannya tetap tepat sasaran, akuntabel, dan memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
Melalui pengembangan nutripreneur, pemerintah berharap Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya menjadi instrumen peningkatan kualitas gizi nasional, tetapi juga menjadi penggerak lahirnya wirausaha baru, memperkuat ekonomi lokal, serta mendukung pembangunan sumber daya manusia menuju visi Indonesia Emas 2045.

































































