Lampung – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini diarahkan lebih adaptif dengan kebutuhan kelompok sasaran. Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, menegaskan bahwa intervensi gizi tidak bisa seragam, melainkan harus spesifik sesuai dengan fase kehidupan penerima manfaat.
Dalam kunjungan ke Lampung Tengah, Rabu (24/9/2025), Wihaji mencontohkan bahwa menu untuk anak sekolah berbeda dengan ibu hamil atau menyusui, bahkan ada menu khusus untuk bayi. Pendekatan ini dinilai penting karena setiap kelompok membutuhkan asupan gizi berbeda untuk mendukung tumbuh kembang dan kesehatan mereka.
Penekanan pada ibu hamil, menyusui, dan balita bukan tanpa alasan. Pemerintah ingin memastikan program MBG benar-benar berkontribusi pada upaya penurunan stunting, yang selama ini menjadi persoalan struktural pembangunan sumber daya manusia. Kunjungan Wihaji ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Kalirejo menunjukkan bagaimana implementasi program berjalan. Di sana, tercatat 336 penerima manfaat non-siswa yang terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, serta balita non-PAUD.
Distribusi program MBG juga tidak dilepaskan dari sistem pendampingan keluarga. Sesuai arahan Presiden, Tim Pendamping Keluarga (TPK) dilibatkan untuk memastikan distribusi tepat sasaran sekaligus memberi edukasi kepada keluarga penerima manfaat.
Dari sini terlihat bahwa MBG bukan hanya soal membagi makanan, tetapi menjadi instrumen kebijakan gizi yang berorientasi pada pencegahan stunting dan peningkatan kualitas SDM. Tantangannya, bagaimana konsistensi tata kelola dan pengawasan dapat memastikan diferensiasi menu benar-benar diterapkan, bukan sekadar formalitas di lapangan.

































































