Jakarta — Di tengah sorotan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akibat sejumlah kasus keracunan di beberapa daerah, SD Negeri Jati 05 Pagi, Jakarta Timur, justru mencatat capaian positif. Selama satu tahun pelaksanaan MBG, sekolah ini berhasil mempertahankan nol kasus keracunan makanan.
Kepala SDN Jati 05 Pagi, Tetty Ruswianty, menyebut keberhasilan tersebut tidak lepas dari pengawasan ketat sebelum makanan didistribusikan kepada siswa.
“Sebelum dibagikan, kami selalu cek. Ada sampel makanan yang dicicipi, bukan hanya satu orang tapi beberapa orang. Kalau tidak ada bau atau masalah lain, baru kami distribusikan. Alhamdulillah, satu tahun bersih,” ujar Tetty saat ditemui di Jakarta Timur, Rabu (21/1/2026).
Selain pengawasan fisik makanan, pihak sekolah juga melakukan pendataan menyeluruh terkait pantangan dan alergi makanan siswa melalui kerja sama dengan wali kelas dan orang tua murid. Data tersebut menjadi dasar dalam penyusunan menu MBG di sekolah.
“Semua berdasarkan persetujuan orang tua. Misalnya ada anak yang fobia nasi, itu kami komunikasikan dengan orang tua dan dilatih sedikit demi sedikit. Ada juga yang alergi tertentu,” jelasnya.
Tetty menambahkan, komunikasi intensif dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi kunci menjaga kualitas makanan. Setiap masukan dari sekolah langsung ditindaklanjuti.
“Kalau nasinya agak keras atau lauknya kurang cocok, kami langsung sampaikan. Responsnya selalu cepat,” katanya.
Dampak positif MBG juga dirasakan dalam proses belajar mengajar. Menurut Tetty, siswa menjadi lebih aktif dan mulai terbiasa mengonsumsi sayur.
“Sekarang anak-anak lebih aktif dalam kegiatan belajar. Kesukaan makan sayur juga bertambah,” tuturnya.
Capaian SDN Jati 05 Pagi turut mendapat perhatian Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Kepala BPOM Taruna Ikrar mengunjungi sekolah tersebut pada Rabu (21/1/2026) untuk memberikan edukasi keamanan pangan sekaligus memantau langsung pelaksanaan MBG.
Dalam kunjungan itu, Taruna meninjau sekitar 362 porsi MBG yang didistribusikan kepada siswa. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan keamanan, nilai gizi, serta kualitas makanan.
“Kami melihat langsung bagaimana distribusi dan penyajiannya. Ada siswa yang fobia nasi, diganti dengan kentang. Ada juga yang alergi ikan atau seafood, diganti ayam,” ujar Taruna.
Ia menjelaskan, pengawasan BPOM dilakukan secara menyeluruh, mulai dari dapur SPPG hingga makanan dikonsumsi siswa. Pengawasan mencakup bahan baku, kandungan gizi, proses distribusi, serta kesiapan mitigasi jika terjadi masalah.
“Subuh-subuh kami sudah ke SPPG di Cipinang. Semua kami periksa, dari bahan baku, kandungan gizi, pelatihan, edukasi, hingga distribusi dan mitigasi risikonya,” jelasnya.
Selain pengawasan, BPOM juga menyerahkan buku panduan keamanan pangan kepada pihak sekolah sebagai acuan standar penyajian MBG. Edukasi langsung kepada siswa turut diberikan, termasuk praktik mencuci tangan sebelum makan dan pemahaman tentang makanan yang aman.

































































